dengan tempat belajar seadanya

Sekilas Tentang Kelompok Belajar KURNIA
KURNIA adalah nama sebuah kelompok belajar yang didirikan pada 22 Februari 2004 bertepatan dengan 1 Muharram 1425 H, oleh tujuh bersaudara di sebuah rumah yang berlokasi di Jl. Juriman No. 60 Rt. 004/03 Blok Canggong, Desa Battembat Kecamatan Tengah Tani Kabupaten Cirebon. Inilah cikal bakal dari Yayasan Al-QURNI (Pengembangan Keluarga Muslim) yang berorientasi pada pembinaan serta pengembangan keluarga muslim dalam menjalankan hidup ini.

Seiring dengan semangat Hijrah Tahun Baru Islam 1425 dan rasa peduli terhadap pendidikan secara umum dan pendidikan anak usia dini khususnya serta didorong oleh rasa tanggungjawab dakwah yang harus disampaikan kepada masyarakat. Pada dasarnya upaya ini telah dilakukan oleh orangtua yakni dengan memberikan waktu dan tempat bagi warga sekitar untuk belajar mengaji, walaupun memang masih menggunakan metode konvensional.

angkatan perdana

angkatan perdana

Dengan semakin sepuhnya usia orangtua serta berkembangnya jaman maka tidak ada salahnya Atiyah sebagai anak tertua berinisiatif untuk mengmambil alih tugas dan tanggungjawab moral ini. Inisiatif itu pun disambut baik oleh adik-adik dan saudara-saudara yang lainnya sehingga berdirilah sebuah kelompok belajar KURNIA sebagai perwujudan Pendidikan Anak Usia Dini dan pengembangan aktivitas mengaji sebelumnya. Terlebih lagi di Desa Battembat hingga kini belum ada lembaga pendidikan setingkat ini (baca: Taman Kanak-kanak).

Disamping memberikan bimbingan akhlak dan baca tulis Al-Quran bagi anak-anak, maka kelompok belajar KURNIA –yang mengacu para program pemerintah yakni Pendidikan Anak Usia Dini— ini diharapkan dapat membantu dan membekali anak-anak pra sekolah untuk persiapan ke jenjang berikutnya yakni Sekolah Dasar (SD).

Realitas Kondisi Kelompok Belajar KURNIA

wajah-wajah bahagia penuh harapan

wajah-wajah bahagia penuh harapan

Terkadang, harapan dan cita-cita tak sesuai dengan kenyataan yang dihadapi, namun tentunya itulah takdir yang harus dihadapi. Tak dipungkiri memang, dalam pelaksanaannya, Program PADU yang kami kelola mendapat animo masyarakat yang berlebih. Sejak dibukanya program tersebut, berduyun-duyunlah warga masyarakat untuk mengikutsertakan putra-putrinya dalam program tersebut. Hingga pada akhirnya terdata sebanyak 110 anak yang mendaftarkan diri untuk mengikuti kegiatan ini.

Tak dipungkiri lagi, guna menunjang operasionalnya, dibutuhkan dana tidak sedikit. Berbagai upaya dilakukan oleh para pendiri dan pengelola, salah satunya adalah memungut biaya bagi masyarakat yang mampu. Cara inipun ditempuh demi terus terlaksananya kegiatan, karena hingga saat ini pun belum ada sumber dana dari luar dan untuk kegiatan ini masih ditanggung bersama oleh pendiri.

Pada saat ditentuan iuran bulanan sebesar Rp. 7.500,- (tujuh ribu lima ratus rupiah) per anak, jumlah anak didik pun mulai berkurang. Alasannya mudah ditebak, yakni besarnya iuran menjadi penghambat mereka. Walaupun telah dilakukan berbagai cara untuk menarik mereka kembali agar mau mengikuti kegiatan tanpa harus membayar iuran yang ditetapkan bersama. Hasilnya tetap saja, bahkan diantara anak didik yang bertahan pun banyak yang menunggak, dengan alasan belum ada uang. Walaupun begitu, pengelola terus merangkul orangtua dan anak agar tetap meneruskan kegiatan.

Tahun 2005, Kelompok Belajar KURNIA telah mengantarkan mengantarkan 22 anak didiknya –yang merupakan angkatan pertama— untuk meneruskan pendirikan ke jenjang berikutnya (Sekolah Dasar/SD). Dan hingga 2006 jumlah peserta didik yang masih mengikuti kegiatan belajar terdaftar sekitar 51 orang, padahal sebelumnya pengelola mengkalkulasikan pengeluaran dan pemasukan yang terima guna menutupi segala kebutuhan aktivitas belajar mengajar dengan asumsi Rp. 7.500,- x 100 orang akan bisa tercapai. Namun dengan kondisi 51 anak, itupun sekitar 80% dengan iuran Rp. 7.500,- per anak –karena hingga kini, para orangtua masih keberatan jika dinaikkan— pengelola harus bekerja keras dan selalu ‘tekor’ untuk menutupi pengeluaran rutin sehari-hari.

Tahun 2006 kami berhasil mengantarkan peserta didik sebanyak 36 anak. Sementara tahun lalu, kami telah mengantarkan peserta didik 32 anak untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan selanjutnya SD/MI.  Dan hingga kini, guna memenuhi kebutuhan kegiatan belajar mengajar dan administrasi lainnya, kami hanya memungut sumbangan/infak dari orangtua siswa sebesar Rp 10.000,- per bulan. Dan di tahun yang sama, Kelompok Belajar KURNIA pun medapat dana rintisan dari pemerintah pusat dalam hal ini direktorat jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Departemen Pendidikan Nasional –yang alhamdulillah bisa membantu meringankan pemenuhan kebutuhan kegiatan belajar mengajar untuk saat itu.

jiwa-jiwa yang ikhlas

jiwa-jiwa yang ikhlas, Andakah berikutnya?

Dengan kondisi seperti itu, pengelola pun masih berpikir panjang untuk segera melengkapi berbagai kebutuhan administrasi sekretariatan semisal meja kerja ataupun yang lainnya. Jadi tak heran jika selama dua tahun, pada alamat sekretariatnya tak tercantum nomor telepon ataupun faksimili.  Dan baru  setahun lalu, kami bisa memasang line telepon secara swadaya.  Sebelumnya, untuk keperluan komunikasi (di lokasi) kami hanya mengandalkan telepon seluler yang dimiliki para pendiri Atiyah (almarhum) dan Ani Maharanni serta Atu Khumaeroh yang tinggal di Indramayu. Sedangkan untuk di Jakarta dan sekitarnya, diwakili oleh Hayat Fakhrurrozi.

Perjalanan kelompok belajar KURNIA sepertinya masih akan terus berjalan ditempat jika kondisi diatas masih terus berlanjut, untuk itu kiranya gambaran real seperti ini bisa menggugah nurani para dermawan untuk membantu sehingga semua cita-cita luhur ini akan menjadi kenyataan dalam rangka mencerdaskan anak bangsa menatap masa depannya.

hormat kami,

Hayat FR