rumah tua dengan bangunan seadanya

Selayang Pandang Yayasan Al-Qurni
Jangan pernah menganggap kalo yayasan Al-Qurni ini milik orang berduit yang [mungkin] sebagai wadah untuk sekedar menyalurkan sebagian dari rezeki yang diterimanya dari Allah kepada para dhuafa atau yang memerlukan. Yayasan ini lahir dari cita-cita lama seorang anak manusia yang lahir di desa saat melihat dan menyaksikan sendiri ketertinggalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, walau secara materi mungkin tak ketinggalan.

Semangat untuk menuntut ilmu yang terjadi di masyarakat benar-benar memprihatinkan. Banyak diantara mereka yang merasa cukup anaknya berpendidikan hingga SLTA, bahkan lebih sedih lagi ungkapan “Ngapain sekolah tinggi-tinggi?, kalo nanti akhirnya kawin” sangat-sangat memprihatinkan. Tak heran jika rasanya mereka cukup mengenyam pendidikan hingga SLTA atau SLTP bahkan cukup SD pun bagi mereka tetap bisa hidup. Memang kondisi ini yang membuat keluarga kami meringis.

Rupanya cita-cita lama seorang Bakhri Asmawi –yang tak lain adalah ayah kami– mendapat sambutan hangat dari kesepuluh anaknya plus para mantunya –yang saat ini mempunyai empat orang mantu. Upaya perintisan pun dijalankan oleh Atiyah (almarhum) dan suaminya Hafid dengan membuka pintu rumah menerima warga yang hendak belajar mengaji atau sekedar konsultasi. Tentunya aktivitas ini sebenarnya telah dilakukan oleh kedua orangtua kami (Bakhri Asmawi dan Jumilah) hingga saat ini kediamannya setiap selepas Ashar dipenuhi oleh anak-anak desa untuk mengaji. Aktivitas itu dilanjutkan selepas Maghrib hingga Isya. Tidak sampai disitu, usai bedug Shubuh pun aktivitas belajar mengaji itu masih berlangsung –yang ini khusus untuk kaum adam.

awalnya seperti ini

Seiring berkembangnya jaman dan metode pengajaran, ada keinginan untuk membuka lembaga semisal TPA (Taman Pendidikan Al-Quran), namun hal itu ditunda, dengan alasan tidak etis bersaing dengan lembaga yang telah dididiran tokoh masyarakat sebelumnya dalam bentuk madrasah ibtidaiyah. Tak sekedar itu, berbagai komentar serta pandangan sinis pun terus menderu. Akhirnya rencana itu harus dikubur dalam-dalam. Namun tidak berhenti disini, keinginan untuk mengamalkan ilmu dan kewajiban berdakwah sebagai seorang muslim, akhirnya dikembangkan dengan sasaran utama anak-anak usia pra sekolah dengan membuka Taman Kanak-Kanak. Gayung pun bersambut, para tokoh masyarakat memberikan dukungan moril.

Dalam perjalanannya, rupanya nama KURNIA mulai terdengar dan entah kenapa akhirnya rencana untuk mendirikan TK itu pun sedikit ‘bergeser’ jadi Program PADU (Pendidikan Anak Usia Dini) sebuah program pemerintah lewat Direktorat PADU, Departemen Pendidikan Nasional. Walau memang masyarakat lebih mengenalnya TK KURNIA. Namun tak apalah, yang terpenting adalah kini di Desa itu telah berdiri sebuah sekolah bagi anak-anak pra sekolah –yang mudah-mudahan mampu menanamkan semangat pentingnya pendidikan bagi mereka.

tampak halaman depan

Setahun berjalan, akhirnya keinginan untuk melembagakan kegiatan yang selama ini berjalan kesampaian juga berkat bantuan seorang Notaris. Ya, lewat notaris ini akhirnya nama AL-QURNI terdaftar sebagai yayasan per 25 Juli 2005 silam. Dan tentunya dengan terdaftarnya nama Al-Qurni sebagai lembaga berbadan hukum akan memberi kemudahan kepada kami untuk menjalankan berbagai rencana program yang selama ini terpendam.

Namun, perlu diketahui, sejak awal kami mengatakan bahwa yayasan ini dibentuk dan didirikan bukan oleh orang-orang yang berduit atau berkantong tebal atau memiliki berhektar-hektar lahan sawah, tanah perkebunan. Melainkan didirikan oleh orang-orang yang sekedar memiliki semangat untuk memajukan pendidikan anak-anak bangsa. Sehingga berbagai kendala pun sewajarnya menghadang di depan mata. Kendala klise adalah minimnya dana, sehingga untuk menjalankan kegiatan PADU pun hingga kini masih harus ngutang sana-sini yang dilakukan oleh pengelola guna menutupi kekurangan hanya karena ingin kegiatan itu berjalan lancar, dan tentunya anak-anak penerus negeri ini mendapatkan pendidikan yang layak.

Pertolongan sejati memang datang dari Allah Subhanahu Wata’ala. Artinya selama ini sebelumnya kami tidak pernah menyangka suatu saat kami mendapat bantuan. Salah satu bantuan itu datang dari pemerintah dalam hal ini Direktorat Jendral PADU Departemen Pendidikan Nasional melalui Suku Dinas Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Kabupaten Cirebon. Bantuan itu berupa dana perintisan pembentukan program kegiatan PADU –yang sebelumnya tak pernah disangka. Bantuan tinggal bantuan, kegiatan harus terus berjalan. Sementara berbagai fasilitas kebutuhan sekretariatan belum tersedia.

ruang belajar apa adanya

ruang belajar apa adanya

Maka tak heran jika kendala dana hingga kini masih menjadi momok bagi para pengelola. Namun tentunya lantas pesimis dengan kondisi itu. Para pendiri haqqul yakin akan adanya pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala terhadap umat yang selalu berjuang dan berjalan di koridor yang telah ditentukan Allah. Subhanahu Wata’ala Penggalan-penggalan ayat Al-Quran seperti “Innallaha Laa Yukhliful Mii’aad“, “Innallaha Ma’ashshobiriin” selalu menjadi penguat hati para pengelola.

Untuk itu, jangan heran jika yayasan ini baru mau mulai berbenah menata manajemen secara profesional. Berbagai upaya pun terus dilakukan termasuk pengadaan berbagai fasilitas mulai dari sekretariatan hingga keperluan lainnya. Jadi jangan tanya, kok yayasan tidak ada telepon ataupun faksimilinya. Untuk keperluan komunikasi itu, kami masih mengandalkan nomer kontak handphone para pendiri atau email yang kami buat. Bahkan untuk saat ini (24/9) rekening yayasan pun belum dibuka. Sebagai gantinya kami masih menggunakan rekening salah satu pendirinya. Karena memang semua fasilitas itu belum tersedia.

Jadi, siapaun Anda yang membaca, jika memang berminat untuk membantu melengkapi berbagai kebutuhan yang kami perlukan, dimohon untuk segera menghubungi kami. Berbagai kebutuhan itu bisa dilihat disini.

[Hayat FR]