Bulan Ramadhan menyisakan sepuluh hari terakhir. Hitung mundur dimulai untuk menuju Lebaran. Hari raya Idul Fitri bagi umat muslim. Tak terkecuali bagi muslim di negeri ini yang secara kuantitas terbanyak sealam dunia. Oleh sebab itu, momen Lebaran di Indonesia menjadi sangat menarik karena perayaan Idul Fitri melibatkan ratusan juta manusia di berbagai pelosok negeri.

Tradisi pulang kampung, yang kemudian biasa disebut mudik adalah salah satu fenomena sosial tiap tahun menjelang Lebaran di negeri ini. Mudik menjelma menjadi sebuah pergerakan manusia urban secara besar-besaran dari kota-kota besar menuju kampung halaman asal mereka. Dalam waktu yang hampir bersamaan, biasanya mulai terjadi seminggu jelang Lebaran (H-7), jutaan orang berduyun-duyun pulang kampung dengan menggunakan bermacam moda transportasi. Baik transportasi massal (publik) maupun pribadi.

Karena melibatkan begitu banyak orang, mudik tak ubahnya pertunjukan kolosal yang dilakoni warga perantauan di negeri ini. Lihat saja, sebentar lagi jalan-jalan utama lintas kota akan ramai dengan kendaraan pemudik. Terminal, stasiun, pelabuhan, hingga bandar udara penuh sesak oleh para pemudik. Agar tak kehabisan tiket untuk pulang kampung, sebagian orang sudah membelinya sejak jauh-jauh hari.

Ya, ketika pemerintah masih belum becus sekedar menangani urusan transportasi publik, untuk bisa pulang kampung dengan nyaman dan aman menjadi tidak mudah. Mudik perlu perjuangan dan butuh pengorbanan. Paling tidak perjuangan untuk macet berjam-jam di jalanan atau pengorbanan berdesak-desakkan saat menumpang kendaraan umum. Belum lagi maraknya tindak kriminal yang menjadi ancaman tersendiri bagi para pemudik.

Kondisi tersebut pun akhirnya ‘memaksa’ warga yang hendak pulang kampung mencari cara alternatif untuk mudik. Mudik dengan menggunakan sepeda motor adalah salah satunya. Beberapa tahun terakhir, pulang kampung menggunakan sepeda motor banyak dipilih para pemudik. Secara keamanan dan kenyamanan sebenarnya sepeda motor bukanlah jenis kendaraan yang cocok digunakan untuk perjalanan jarak jauh. Apalagi dengan jumlah penumpang dan barang bawaan yang banyak. Bahkan tak jarang pemudik yang nekat membawa balita atau anak mereka pulang kampung menggunakan sepeda motor.

Lagi-lagi mudik untuk bisa Lebaran di kampung halaman memang butuh perjuangan. Termasuk mudik dengan menggunakan sepeda motor yang katanya lebih hemat biaya ketimbang naik bus, kereta api atau transportasi umum lainnya. Selain harus menempuh jarak yang cukup jauh, pemudik sepeda motor juga masih harus berpacu dengan kendaraan lain di jalan-jalan yang kondisinya tidak semuanya mulus.

***

Lalu, apakah berbagai resiko yang harus dihadapi saat mudik, baik itu menggunakan transportasi umum, kendaraan pribadi maupun sepeda motor, mengurungkan niat dan semangat orang-orang untuk pulang kampung saat Lebaran? Ternyata jawabannya tidak.

Sebagai sebuah tradisi, pulang kampung atau mudik tidak bisa dilewatkan begitu saja bagi masyarakat urban setiap Lebaran. Karena di dalam tradisi mudik ada nilai-nilai kehidupan sosial keagamaan dan keluarga yang harus tetap dijaga. Agama, dalam hal ini Islam, mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menjaga tali silaturahim dengan orang tua, saudara, tetangga dan orang-orang yang dikenal. Termasuk saling memaafkan yang dianjurkan agama saat hari raya Idul Fitri.

Berbagai nilai kehidupan sosial yang ada dalam tradisi mudik tersebutlah yang menjadikan orang-orang begitu bersemangat untuk pulang kampung saat Lebaran. Tak peduli jalanan macet, angkutan umum penuh sesak, dan resiko lain yang mungkin menghadang langkah mereka menuju kampung halaman.

Tatanan kehidupan sosial seperti Itulah yang oleh Anthony Giddens disebut sebagai tatanan sosial pasca-tradisional. Dalam hal ini tatanan sosial pasca-tradisional bukanlah tatanan dimana tradisi ditinggalkan oleh masyarakatnya. Ketimbang dihancurkan, tradisi lebih direformasi sedemikian rupa.

Meski tradisi selalu berbenturan dengan nilai-nilai kehidupan modern, namun dalam perkembangan masyarakat modern saat ini kembali kepada tradisi merupakan hal penting dalam mengkonsolidasikan tatanan sosial. Bahkan tradisi pun memiliki kebenarannya sendiri. Suatu kebenaran ritual yang dinyatakan benar oleh mereka yang meyakini. Dan itu terdapat di hampir setiap wilayah kehidupan. Termasuk pulang kampung atau mudik saat Lebaran adalah salah satunya.

***

Betapa pulang kampung saat Lebaran menjadi siklus kebahagiaan tahunan bagi rakyat kebanyakan di negeri ini. Bahagia dan gembira karena bisa berkumpul bersama keluarga, paling tidak untuk beberapa hari, setelah terpisah selama satu tahun bahkan lebih. Bertemu dengan orang-orang yang dicintai untuk melepas rindu. Dan mungkin juga bertemu orang yang dimusuhi untuk saling memaafkan.

Selamat mudik, selamat sampai tujuan.

Fahmi FR @310810

Ketika cahaya fajar 1 Syawal baru saja menyingsing di ufuk timur, mentari memancarkan semburat cahayanya dan mengirimkan hangatnya. Ketika itulah baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar dari tempat i’tikafnya di masjid Nabawi guna melaksanakan shalat ied bersama-sama kaum muslimin. Beliau juga menyuruh semua kaum muslimin, dewasa, anak-anak, laki-laki dan perempuan baik perempuan suci maupun yang haid keluar bersama menuju tempat sholat. Dengan harapan supaya mendapat keberkahan pada hari suci itu. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu yang diriwayatkan Imam Baihaqi dan Ibnu Majah Radhiallahu ‘Anhuma, dikatakan bahwa, “Rasululah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar dengan seluruh istri dan anak-anak perempuannya pada waktu dua hari raya.”

Sebelum melaksanakan sholat ied, terlebih dahulu Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membersihkan diri. Lalu beliau berdoa, “Ya Allah, sucikanlah hati kami sebagaimana Engkau sucikan badan kami, sucikanlah batin kami sebagaimana Engkau sucikan lahir kami, sucikanlah apa yang tersembunyi dari orang lain sebagaimana Engkau telah sucikan apa yang tampak dari kami.”

Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun memakai wewangian. Sebagaimana diriwayatkan Annas bin Malik, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kita di dua hari raya mengenakan pakaian terbagus yang kita miliki, menggunakan wewangian terbaik yang kita miliki dan berkurban (bersedekah) dengan apa saja yang paling bernilai yang kita miliki.”

Sempurnanya puasa dan lengkapnya persiapan ‘lebaran’ belum dianggap cukup sebelum kembali ke kampong halaman. Berbagi kebahagiaan, melepas rindu dan bersilaturahim dengan keluarga dan kerabat. Ya tradisi ‘mudik’ pun pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang rindu kampong halamannya, kota Mekkah Al-Mukaramah. Betapa tidak, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang sudah enam tahun lamanya bersama kaum Muhajirin di pengasingan yang terus disibukkan oleh peperangan, mulai dari perang Badar, Uhud, Khandaq, Ahzab dan seterusnya akhirnya rindu juga akan kampung halamanannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun akhirnya mudik.

Suatu pagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terbangun dari tidurnya dengan wajah berseri-seri. Ada apa gerangan? Ternyata semalam beliau bermimpi, berliau bersama kaum muslimin akan kembali ke Mekkah untuk berhaji dalam keadaan damai. Tidak ada perang dan tidak ada perlawanan. Sebenarnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah memendam lama keinginan untuk berdoa di Ka’bah. Begitu pula dengan kaum muslimin yang rindu akan kampong halamannya. Tak lain tak bukan, mimpin itu merupakan bagian dari wahyu Allah Subhanahu Wata’ala. Beliau pun akhirnya menyeru kepada kaum Muhajirin untuk menyiapkan perjalanan ke Mekkah guna melakukan umrah dan tawaf di Masjidil Haram. Maka berbondong-bondonglah kaum muslimin untuk mengikuti ajakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Rupanya rencana ‘mudik’ baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terdengar oleh kaum Quraisy di Mekkah, sehingga mereka pun bersiap untuk menghalau kedatangan kaum muslimin yang dianggap musuh bebuyutan mereka, walau hanya untuk berhaji. Saat rombongan tiba di Hudaibiyah, sekitar 13 kilometer dari Mekkah, datanglah utusan kaum Quraisy. Untuk urusan ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengutus Sayyidina Utsman bin Affan Radhiallahu ‘Anhu untuk menemuinya. Sekembalinya menemui utusan kaum Quraisy, beliau mengabarkan bahwa kaum Quraisy tidak bersedia menerima kedatangan kaum muslimin dengan berbagai alasan. Anehnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun memenuhi keingiann itu, yang kemudian hari dikenal sebagai perjanjian Hudaibiyah. Setelah setahun berlalu, sesuai kesepakatan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan pengikutnya akhirnya diperbolehkan mengunjungi Ka’bah hanya untuk umrah.

Rupanya gencatan senjata antar kaum muslimin dan kaum musyrikin yang dibingkai dalam perjanjian Hudaibiyah itu pun pecah karena ulah kaum musyrikin sendiri. Akhirnya dengan kekuatan sepuluh ribu orang pasukan dibawah pimpinan langsung Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bergerak menuju Mekkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus melepas rindu akan kampung halaman.

Singkat cerita, setelah melalui perjalanan panjang dan penuh perjuangan, pengorbanan, kerinduan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berserta kaum muslimin terhadap kota kelahirannya, Mekah terobati sudah. Disaksikan penduduk Mekah dan sepuluh ribu pasukannya, beliau menyentuh Hajar Aswad dan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali.

Tradisi mudik yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tidak hanya bermakna silaturahmi dan kegembiraan. Mudik memiliki makna yang amat mendalam, mencerminkan kerinduan manusia yang luar biasa pada asal muasalnya, pada tanah kelahirannya. Dan karena asal muasal kita yang hakiki adalah Allah Subhanahu Wata’ala, mudik sebenarnya hanyalah bentuk kecil kerinduan kita yang luar biasa kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Pada gilirannya, nanti kita pun akan melakukan ‘mudik’ yang abadi yakni ke hadirat Ilahi Robbi.