Ketika cahaya fajar 1 Syawal baru saja menyingsing di ufuk timur, mentari memancarkan semburat cahayanya dan mengirimkan hangatnya.

Ketika itulah baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar dari tempat i’tikafnya di masjid Nabawi guna melaksanakan shalat ied bersama-sama kaum muslimin. Beliau juga menyuruh semua kaum muslimin, dewasa, anak-anak, laki-laki dan perempuan baik perempuan suci maupun yang haid keluar bersama menuju tempat sholat. Dengan harapan supaya mendapat keberkahan pada hari suci itu. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu yang diriwayatkan Imam Baihaqi dan Ibnu Majah Radhiallahu ‘Anhuma, dikatakan bahwa, “Rasululah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar dengan seluruh istri dan anak-anak perempuannya pada waktu dua hari raya.”

Sebelum melaksanakan sholat ied, terlebih dahulu Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membersihkan diri. Lalu beliau berdoa, “Ya Allah, sucikanlah hati kami sebagaimana Engkau sucikan badan kami, sucikanlah batin kami sebagaimana Engkau sucikan lahir kami, sucikanlah apa yang tersembunyi dari orang lain sebagaimana Engkau telah sucikan apa yang tampak dari kami.”

Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun memakai wewangian. Sebagaimana diriwayatkan Annas bin Malik, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kita di dua hari raya mengenakan pakaian terbagus yang kita miliki, menggunakan wewangian terbaik yang kita miliki dan berkurban (bersedekah) dengan apa saja yang paling bernilai yang kita miliki.”

Sempurnanya puasa dan lengkapnya persiapan ‘lebaran’ belum dianggap cukup sebelum kembali ke kampong halaman. Berbagi kebahagiaan, melepas rindu dan bersilaturahim dengan keluarga dan kerabat. Ya tradisi ‘mudik’ pun pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang rindu kampong halamannya, kota Mekkah Al-Mukaramah. Betapa tidak, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang sudah enam tahun lamanya bersama kaum Muhajirin di pengasingan yang terus disibukkan oleh peperangan, mulai dari perang Badar, Uhud, Khandaq, Ahzab dan seterusnya akhirnya rindu juga akan kampung halamanannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun akhirnya mudik.

Suatu pagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terbangun dari tidurnya dengan wajah berseri-seri. Ada apa gerangan? Ternyata semalam beliau bermimpi, berliau bersama kaum muslimin akan kembali ke Mekkah untuk berhaji dalam keadaan damai. Tidak ada perang dan tidak ada perlawanan. Sebenarnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah memendam lama keinginan untuk berdoa di Ka’bah. Begitu pula dengan kaum muslimin yang rindu akan kampong halamannya. Tak lain tak bukan, mimpin itu merupakan bagian dari wahyu Allah Subhanahu Wata’ala. Beliau pun akhirnya menyeru kepada kaum Muhajirin untuk menyiapkan perjalanan ke Mekkah guna melakukan umrah dan tawaf di Masjidil Haram. Maka berbondong-bondonglah kaum muslimin untuk mengikuti ajakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Rupanya rencana ‘mudik’ baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terdengar oleh kaum Quraisy di Mekkah, sehingga mereka pun bersiap untuk menghalau kedatangan kaum muslimin yang dianggap musuh bebuyutan mereka, walau hanya untuk berhaji. Saat rombongan tiba di Hudaibiyah, sekitar 13 kilometer dari Mekkah, datanglah utusan kaum Quraisy. Untuk urusan ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengutus Sayyidina Utsman bin Affan Radhiallahu ‘Anhu untuk menemuinya. Sekembalinya menemui utusan kaum Quraisy, beliau mengabarkan bahwa kaum Quraisy tidak bersedia menerima kedatangan kaum muslimin dengan berbagai alasan. Anehnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun memenuhi keingiann itu, yang kemudian hari dikenal sebagai perjanjian Hudaibiyah. Setelah setahun berlalu, sesuai kesepakatan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan pengikutnya akhirnya diperbolehkan mengunjungi Ka’bah hanya untuk umrah.

Rupanya gencatan senjata antar kaum muslimin dan kaum musyrikin yang dibingkai dalam perjanjian Hudaibiyah itu pun pecah karena ulah kaum musyrikin sendiri. Akhirnya dengan kekuatan sepuluh ribu orang pasukan dibawah pimpinan langsung Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bergerak menuju Mekkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus melepas rindu akan kampung halaman.

Singkat cerita, setelah melalui perjalanan panjang dan penuh perjuangan, pengorbanan, kerinduan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berserta kaum muslimin terhadap kota kelahirannya, Mekah terobati sudah. Disaksikan penduduk Mekah dan sepuluh ribu pasukannya, beliau menyentuh Hajar Aswad dan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali.

Tradisi mudik yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tidak hanya bermakna silaturahmi dan kegembiraan. Mudik memiliki makna yang amat mendalam, mencerminkan kerinduan manusia yang luar biasa pada asal muasalnya, pada tanah kelahirannya. Dan karena asal muasal kita yang hakiki adalah Allah Subhanahu Wata’ala, mudik sebenarnya hanyalah bentuk kecil kerinduan kita yang luar biasa kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Pada gilirannya, nanti kita pun akan melakukan ‘mudik’ yang abadi yakni ke hadirat Ilahi Robbi.

@ Hayat FR