“Assalaamu’alaikum”. Seorang perempuan mengucap salam di halaman rumah. “Wa alaikum salaam”. Aku menjawab salam sambil keluar dari dalam rumah. “Ada apa ya?” aku bertanya pada perempuan itu. “Permisi, pak. Kami sedang mengadakan kegiatan fogging untuk mencegah penyebaran nyamuk agar keluarga bapak dan warga di lingkungan ini terhindar dari serangan penyakit demam berdarah dan chikungunya.” Kata perempuan itu menjelaskan maksud kedatangannya. “Jadi nanti rumah bapak akan di-fogging oleh petugas kami,” tambahnya.

Hmmm…

“Gratis lho pak. Tidak dipungut biaya,” katanya. Belum sempat aku menanggapi, perempuan itu melanjutkan penjelasannya. “Bapak cukup membayar bubuk Abate ini,” ujarnya sambil menyodorkan lima bungkus kecil bubuk Abate yang sejak tadi ia pegang. “Satu bungkus harganya empat ribu rupiah, pak.”

Baiklah. Kini giliranku untuk bicara. “Begini ya, sepengetahuanku untuk urusan fogging dan pemberian bubuk Abate itu menjadi tugas Dinas Kesehatan. Dan tidak dikomersilkan seperti ini,” kataku. “Iya pak,” perempuan itu langsung menanggapi. “Tapi, biasanya petugas dari dinas atau dari puskesmas itu melakukan fogging setelah ada warga yang meninggal karena demam berdarah atau chikungunya,” papar perempuan itu meyakinkan.

Ah, yang bener? kalau begitu payah juga petugas atau pegawai dinas yang mengurusi masalah kesehatan masyarakat di negeri ini. Baru bekerja setelah ada yang mati. Aku berucap dalam hati mendengar penjelasan perempuan itu. Aku membolak-balik sebungkus bubuk Abate. Isinya cuma 1 gram. Kata perempuan itu satu bungkus digunakan untuk 50 liter air.

“Saya beli satu bungkus saja,” kataku kepada perempuan itu. Jadi aku cukup merogoh kocek empat ribu rupiah. “Tidak bisa, pak.” Sergah perempuan itu. “Kalau rumah bapak mau di-fogging, bapak harus membayar lima bungkus. Ini sudah satu paket.” Perempuan itu kembali menyodorkan bungkus Abate itu kepadaku. “Kalau mau beli Abate-nya saja minimal dua bungkus,” jelasnya.

“Terima kasih. Saya cuma ada uang empat ribu.” Aku memberikan uang kertas dua lembar pecahan dua ribu kepada perempuan itu dan langsung masuk ke dalam rumah. Sempat aku lihat perempuan itu beranjak dari halaman rumah dengan menggerutu. Maaf anda kurang beruntung! Hehehe….

***
Cerita di atas bukan karangan fiktif. Itu benar-benar terjadi kemarin. Kejadian tersebut mengingatkanku pada kondisi dimana saat ini betapa peran pemerintah benar-benar telah dilucuti oleh sebuah sistem yang bernama kapitalis. Terlebih perkembangan kapitalisme kini beranjak menjadi apa yang saat ini diistilahkan sebagai proyek Neoliberlaisme. Dimana pokok dari neoliberalisme adalah menyingkirkan peran sosial Negara/pemerintah bagi kesejahteraan warganya.

B. Herry Priyono menyebut neoliberalisme awalnya bukan sekedar urusan ekonomi. Tetapi suatu proyek filosofis yang beraspirasi menjadi teori komprehensif tentang manusia dan tatanan masyarakat. Ragam relasi manusia bisa saja disebut kultural, politik, sosial, psikologis, estetik, spiritual dan seterusnya. Namun, bila dikatakan secara lugas, beragam relasi itu dipandu prinsip transaksi laba-rugi yang berlaku dalam kinerja ekonomi pasar.

Neoliberalisme berupaya meradikalisasi semua hubungan sosial manusia yang ditentukan oleh kinerja pasar. Sehingga menuntut prinsip pasar diterapkan bukan hanya pada pemenuhan kebutuhan barang dan jasa. Proyek neoliberalisme prinsip itu juga diterapkan untuk pengadaan atau pelayanan, misal, pendidikan termasuk kesehatan oleh pihak swasta atau pengusaha. Ketika berbicara swasta, maka motifnya sudah pasti untuk mencari keuntungan.

Maka terjadilah untuk sekedar fogging dan pemberian bubuk Abate saja kini telah diserahkan kepada perusahaan swasta. Sekedar informasi, perempuan yang menawarkan bubuk Abate kepadaku itu mengaku bekerja di perusahaan swasta bernama Usaha Mandiri yang berkantor di Kuningan, Jawa Barat. Hanya dengan selembar surat keterangan dari pihak desa lengkap dengan stempel serta tanda tangan kepala desa, mereka bisa menyerbu setiap rumah warga untuk menjual bubuk Abate dengan iming-iming fogging gratis.

Lalu dimana pegawai Dinas Kesehatan? Puskesmas? Posyandu? Ketika untuk urusan mencegah penyebaran nyamuk saja diserahkan kepada swasta?! Jawabannya, para pegawai yang bekerja pada dinas terkait telah dikarantina neoliberalisme! Mereka baru (mau) muncul dan bertindak ketika logika pasar memposisikan mereka untuk bisa mendapat keuntungan materi. Atau, mengutip pernyataan perempuan si penjual Abate, biasanya petugas dari dinas atau dari puskesmas melakukan fogging setelah ada warga yang meninggal.

Neoliberalisme menerapkan homo oeconomicus sebagai model prilaku manusia dan menjadikan logika pasar sebagai koordinasi masyarakat. Negara adalah perusahaan dan pejabat adalah pengusaha yang menjual kota hingga desa sekalipun beserta sumber daya apa saja yang bisa ditawarkan kepada investor. Sehingga saat ini seakan tidak ada lagi pelayanan kesehatan dari pemerintah kepada warganya. Karena yang ada hanyalah bisnis pelayanan kesehatan.

***
Aku bukan tidak peduli pada kesehatan ketika hanya membeli sebungkus bubuk Abate sehingga rumahku tidak di-fogging. Aku sepakat dengan istilah ‘mencegah lebih baik daripada mengobati’ serta fogging dan menaburkan bubuk Abate sebagai bentuk pencegahan terhadap penyebaran nyamuk penyebab demam berdarah. Tapi, ketika fogging dan bubuk Abate sudah dikomersilkan sedemikian rupa maka aku memilih cara 3 M (Menutup, Menguras, dan Mengubur) untuk mencegah demam berdarah. Bukankah itu lebih efektif?

Sebelum mengakhiri tulisan ini, aku panjatkan do’a bagi keluarga, tetangga, dan semua orang yang membaca tulisan ini agar terjaga dan terhindar dari penyakit demam berdarah, dan segala penyakit lainnya. Dan bagi yang sedang sakit, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa segera memberikan kesembuhan tanpa harus menunggu kita terbelit jerat bisnis pelayanan kesehatan di negeri ini. Amin.

salam,
Fahmi FR