Ramadhan sebentar lagi tiba. Bulan suci bagi umat Islam untuk menjalankan kewajiban berpuasa selama sebulan penuh. Bulan yang penuh keberkahan, rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Oleh karena itu bulan Ramadhan sering dijadikan sebagai momentum untuk ‘membersihkan’ diri dari dosa-dosa yang telah diperbuat. Selain itu, tentu saja pengharapan untuk menjadi umat yang bertakwa dan balasan masuk surga.

Keistimewaan Ramadhan juga karena di dalamnya wahyu pertama al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sehingga Ramadhan selalu mendapat sambutan dengan semangat keagamaan dan spiritualitas yang tinggi dari umat Islam. Berbagai persiapan untuk menyambut datangnya bulan puasa pun dilakukan jauh-jauh hari. Baik yang bersifat mental-spiritual maupun fisik-material.

Menjalankan kewajiban puasa Ramadhan di abad modern bagi umat Islam benar-benar penuh godaan. Bukan hanya godaan untuk tidak makan dan tidak minum di siang hari serta dari segala hal yang membatalkan puasa. Di satu sisi umat Islam juga harus menahan diri dari godaan dan serangan budaya konsumerisme yang selama bulan Ramadhan muncul atas nama agama.

Kondisi ini tentu tidak terlepas dari perkembangan kapitalisme lanjut sebagai bentuk paling mutakhir sistem ekonomi kapitalis yang menempatkan ‘konsumsi’ sebagai titik sentral kehidupan dalam tatanan sosial masyarakat kapanpun dan di manapun. Sesuatu yang bertolak belakang dengan substansi diwajibkannya puasa agar seseorang mampu mengendalikan hawa nafsu (konsumtif), meningkatkan kepedulian terhadap sesama dan lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sehingga menjadi insan yang bertakwa.

***

Umat Islam, tiap menjelang Ramadhan selalu diposisikan sebagai konsumen potensial untuk meraup keuntungan bisnis. Sensibilitas keagamaan bagi para pebisnis menjadi senjata yang ampuh untuk mendongkrak tingkat konsumsi dan belanja masyarakat dibanding hari-hari biasa. Terlebih Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia.

Fenomena ini tentu saja dapat dengan mudah ditemukan. Lihat di sekitar kita sekarang ini. Berbagai macam barang-barang konsumsi diproduksi dan ditawarkan spesial menyambut bulan suci Ramadhan. Mulai dari sandang, pangan, hingga kartu telepon seluler sekalipun. Termasuk hiburan seperti sinetron, musik, humor, dan ceramah pun sudah mulai tayang atas nama bulan suci Ramadhan. Kemudian muncullah istilah sinetron religi atau album religi para penyanyi maupun grup band yang selalu ditunggu para penggemarnya.

Melalui iklan di media cetak maupun elektronik berbagai komoditas yang diproduksi dengan sensibilitas keagamaan dilempar ke pasar. Tentu saja selama bulan puasa produk yang dibuat sudah dibalut dengan ‘pakaian’ bulan suci Ramadhan, Islam. Dan yang tidak kalah penting, sadar maupun tidak sadar, sesungguhnya di situlah terjadi proses penanaman semacam pembenaran atau ‘Islamisasi’ atas perilaku konsumtif umat Islam selama bulan puasa. Idi Subandy Ibrahim menyebutnya sebagai upaya kapitalisasi Islam atau penaklukan semangat keagamaan oleh pasar, dunia bisnis, atau kapitalisme itu sendiri.

Proyek penaklukan semangat keagamaan oleh pasar tersebut tentu saja sudah berlangsung sejak jauh-jauh hari sebelum bulan Ramadhan datang. Kemudian dipusatkan pada Ramadhan selama satu bulan penuh sampai lebaran. Bahkan lebaran pun bisa menjadi semacam ‘festival konsumsi’ dimana pergantian mode dan tata busana dimanfaatkan industri untuk kepentingan bisnis semata. Sangat memprihatinkan ketika semangat atau mungkin juga kebangkitan keagamaan harus takluk pada pentas konsumsi massa.

Perkembangan kapitalisme global membuat, bahkan memaksa, momen bulan puasa tak lebih hanya menjadi komoditas yang terus menerus diproduksi demi sebuah keuntungan bisnis. Umat Islam diarahkan pada suatu kondisi dimana seolah-olah ‘hasrat’ mengkonsumsi di bulan Ramadhan selalu dilegitimasi oleh ‘kebutuhan’ rohaniah mereka. Sepertinya ibadah puasa nantinya kurang sempurna jika tidak mengkonsumsi makanan serta minuman tertentu atau segala yang disodorkan oleh media dan iklan dengan mengatasnamakan agama. Berbagai kegiatan bisnis diselenggarakan di bulan puasa sekaligus menciptakan kebutuhan yang bukan lagi esensial tapi artifisial.

***

Islam menempatkan ibadah puasa pada posisi yang istimewa. Puasa merupakan ibadah yang memadukan keikhlasan hubungan antara manusia dengan Allah SWT (hablum minallah) dan keihklasan hubungan antara manusia dengan manusia (hablum minannas). Secara pribadi puasa merupakan media mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bahkan, karena sangat pribadi Allah SWT sendirilah yang akan membalasnya. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, “Semua amal perbuatan Bani Adam menyangkut dirinya pribadi kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan karena itu Akulah yang langsung membalasnya.”

Sementara dari sisi sosial puasa mengajarkan untuk lebih peduli kepada sesame. Memperbanyak amal sholeh dan bukan menumpuk nafsu konsumtif sendiri. Puasa hendak mengajarkan bagaimana mengendalikan diri dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh sebab itu, Islam pun menegaskan kepedulian social ini dengan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah di akhir Ramadhan.

Melalui dua dimensi itulah puasa bertujuan membentuk pribadi-pribadi yang bertakwa. Takwa adalah derajat paling tinggi di sisi Allah SWT dan mustahil dicapai melalui pemenuhan nafsu pribadi yang bersifat material dan simbolik. Sebab ketakwaan seseorang tidak dinilai dari symbol-simbol artificial yang menempel di tubuh.

Puasa ingin mengajak umat Islam untuk membebaskan diri dari pemenuhan aneka kebutuhan simbolik. Termasuk membebaskan diri dari belenggu konsumerisme. Ramadhan sebentar lagi. Semoga kita bisa menyambutnya dengan penuh semangat dan menjadikannya sebagai momentum kebangkitan keagamaan yang tidak berhenti pada level simbolik semata. Amin.

Marhaban ya Ramadhan…

Fahmi FR