rujak“Jangan sampai tidak beli. Sebisa mungkin kalian membeli dagangannya. Karena dengan begitu mudah-mudahan dari sana sumber rezeki rumah ini terus mengalir dan berkah.”  Paling tidak itulah pesan emak pada anak-anaknya sejak dulu. Termasuk saya, yang sore itu memang tengah bercengkrama dengan adik-adik di teras depan. Tentunya pesan itu disampaikannya ketika sang pedagang itu telah beranjak pergi.

Ya, saban sore memang rumah kami selalu ramai dengan kehadiran anak-anak tetangga yang belajar ngaji yang diasuh emak (ibu) dan mama (bapak) sejak lebih dari 32 tahun silam. Dan pemandangan aktivitas itu kembali kulihat kala sowan awal bulan lalu. Dengan ramainya adanya kegiatan itu, tak heran bila banyak pedagang aneka jajanan keliling berhenti sejenak sekedar berharap ada yang membeli dagangannya.

Sore itu, pemandangan belasan tahun silam terpapar jelas di depan mata. Seorang pedagang rujak dan aneka makanan kecil –yang dibuatnya sendiri, seperti gorengan, bihun goreng plus es teh dan masih banyak lagi– rutin mampir  menjelang magrib. Sejurus kedatangannya, emak pun langsung memesan dua wincuk rujak. Tak ketinggalan adik-adikku (6 orang) mulai menyemut di sekitarnya. Saya yang saat itu tengah asyik ber-SMS-an hanya bisa menyaksikan interaksi mereka.

Iseng sekedar memecah kebisuanku, kulayangkan pertanyaan pada si pedagang yang tak lain masih ada hubungan saudara dari emak. “Untuk berjualan ini, modalnya berapa bi?” Sambil melayani, perempuan paruh baya itu menjawab, “Ya paling 50 ribu, itu kalau tidak dipotong dengan kebutuhan yang lainnya. Terkadang modal itu selalu terpakai untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Makanya mendingan kalau di rumah ini pasti ada yang beli.”

“Terus selain kesini kemana aja?” tanyaku lagi. “Ya sebelumnya ke sekolahan terus ke madrasah terus mider (keliling) dan terakhir ke rumah ini. Karena di rumah ini pasti ada yang beli.”

“Ini namanya bagi-bagi rejeki. Emak yang berprofesi sebagai pedagang kecil di pasar, tentunya tidak boleh pelit untuk mau beli jajanan yang dijajakan orang lain. Apa lagi pedagangnya itu sudah mau sudi mampir ke rumah ini. Jadi kita tak usah mencarinya atau menemuinya di rumah pedagang itu.” Kembali Emak menyampaikan, kenapa selalu menyuruh anak-anaknya mau membeli dagangan yang dijajakannya itu. Menurutnya, dengan mau membeli dagangannya mudah-mudahan akan membuka sumber rejeki untuk keluarga ini.

Ya, memang pedagang yang satu ini selalu sudi menghampiri rumah kami untuk menawarkan jajanannya. Tentunya tidak hanya perempuan paruh baya ini. Sebelumnya beberapa perempuan paruh baya bahkan nenek-nenek –yang saya kenal sebelumnya– yang selalu rutin bertandang ke rumah untuk menjajakan dagangannya.

Bahkan ada pula, sore itu datang seorang perempuan muda ditemani anaknya menawarkan jasa ‘antar jemput’ beras miskin dari balai desa. Konon, sejak awal tahun nama emakku ada dalam daftar penerima raskin. Padahal sebelumnya tak pernah ada namanya di daftar penerima raskin. Nah, agar tidak repot-repot antri mengambil jatah itu, emak cukup menitipkan uang kepada perempuan muda itu untuk mengambil raskin sebanyak 4 kilo itu di balai desa. Sebagai imbalannya, ia mendapatkan rupiah 500 untuk setiap liternya.

Dan lagi-lagi, emak pun berpesan memberikan jalan menjemput rejeki antar sesama, akan memberi jalan rejeki bagi kita pula. Karena dari langkah mereka, niat mereka tentunya berbuah doa untuk dirinya dan kita. Dan yang terpenting Gusti Allah sing Maha Kuasa itu ora sare (tak pernah tidur).

Semoga pesan ini selalu diingat dan bisa diamalkan. Amin