Bismillah, Wa Alhamdulillah, Allahumma Sholli Alaa Sayyidina Muhammad Wa Mauwwalah… ini sekedar berbagi materi khutbah yang disampaikan pada Jum’at lalu. Semoga bermanfaat.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala dan tentunya sudah menjadi kewajiban kita untuk selalu bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita semua hingga detik ini. Karena dengan bersyukur maka nikmat yang Allah Subhanahu Wata’ala berikan kepada kita akan bertambah. Dan yakinlah kenikmatan yang Allah Subhanahu Wata’ala karuniakan itu tak pernah putus sepanjang zaman. Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita, nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atas segala jasa-jasanya dan perjuangan beliau menyampaikan risalah Islam hingga kepada sampai kepada kita hari ini. Dan semoga kita pun tetap dijadikan umat Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam hingga akhir jaman nanti dan mendapatkan syafaatnya. Dalam kesempatan ini, khatib pun tak lupa berwasiat kepada para hadirin jamaah jumat khususnya kepada diri sendiri, untuk terus meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu Wata’ala

Alhamdulillah, berkat limpahan rahmat, taufiq, hidayah serta ‘Inayah-Nya, kita masih diberikan rizqi ‘umur panjang’ masih dipertemukan kembali dengan bulan yang agung, bulan yang mulia yakni ‘Syahrur Rajab Al-Mubaarak’. Bulan yang sangat baik untuk memperbanyak amal ibadah khususnya berpuasa. Termasuk di dalamnya terdapat peristiwa bersejarah yang begitu monumental bagi umat Islam, yakni di-isra’ mi’raj-kannya Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dengan bekal keyakinan dan keimanan, marilah kita mendinamisir rasa takut kita, ketaqwaan kita sesunggguhnya kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan kita lestarikan hingga ajal menjemput kita.

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu Wata’ala

Perjalanan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari Makkah ke Bayt al-Magdis, kemudian naik ke Sidrat al-Muntaha, bahkan melampuinya, serta kembalinya ke Makkah dalam waktu yang sangat singkat, merupakan tantangan terbesar sesudah Al-Qur’an disodorkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala kepada umat manusia. Peristiwa ini membuktikan bahwa ‘Ilm dan Kudrat Allah Subhanahu Wata’ala meliputi dan menjangkau, bahkan mengatasi segala yang ‘finite’ (terbatas) dan ‘infinite’ (tak terbatas) tanpa terbatas waktu dan ruang. Banyak kaum empiris dan rasionalis, yang melepaskan diri dari bimbingan wahyu, tak mempercayainya. Bahkan menggugat eksistensinya, karena tidak sesuai dengan hukum-hukum alam.

Konon, mereka beranggapan peristiwa itu tidak dapat dibuktikan oleh patokan-patokan logika. Dengan ini kita sebagai insan yang beriman pendekatan yang paling tepat dan sederhana (tidak memerlukan teori-teori kajian ilmiah yang empiris dan rasional) untuk dapat memahaminya adalah cukup dengan pendekatan ‘Imaniy’. Sebagaimana yang ditempuh oleh sahabat nabi, Abu Bakar As-Shiddiq, seperti tergambar dalam ucapannya: “Apabila Muhammad yang memberitakannya, pastilah benar adanya”. Dan jika keilmiahan yang dituntut, maka Al-Qur’anlah yang harus menjadi pusat rujukan/referensinya, melalui pengamatan terhadap sistematika dan uraian Al-Qur’an tentang Isra’ Mi’raj.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Dalam kaitan tuntutan keilmiahan dalam memandang perirstiwa Agung Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dapatlah kiranya dirumuskan kerangka berfikirnya dengan sistematika sebagai berikut: Para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu apapun menyatakan bahwa segala sesuatu pasti memiliki pendahuluan yang mengantar atau menyebabkannya. Sebagai pakar Al-Qur’an, Imam As-Suyuthi berpendapat bahwa pengantar satu uraian dalam Al-Qur’an adalah uraian yang terdapat dalam surat sebelumnya. Sedangkan inti uraian satu surat difahami dari nama surat tersebut. Dengan demikian, maka pengantar uraian peristiwa Isra’ Mi’raj adalah surat yang dinamai Allah Subhanahu Wata’ala dengan sebutan Al-Nahl, yang berarti ‘lebah’

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa surat Al-Isra’ didahului oleh An-Nahl, mengapa lebah yang mengantarkannya? Lebah dipilih oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk menggambarkan keajaiban ciptaan-Nya, agar menjadi pengantar keajaiban pembuat-Nya dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Lebah juga dipilih untuk menjadi pengantar bagi bagian yang menjelaskan manusia seutuhnya. Karena manusia seutuhnya adalah ‘Manusia Mukmin’ yang menurut Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah bagaikan lebah, tidak makan kecuali yang baik dan indah, seperti kembang yang semerbak; tidak menghasilkan sesuatu kecuali yang baik dan berguna, seperti madu yang dihasilkan lebah itu.

Oleh karenanya hanya pendekatan ‘Iman’ yang lahir dari pribadi Mukminlah yang mempercayai peristiwa Isra’ Mi’raj. Dari segi lain, dalam surat Al-Isra’ sendiri, berulang kali ditegaskan tentang keterbatasan pengetahuan manusia serta sikap yang harus diambilnya menyangkut keterbatasan tersebut.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam surat An-Nahl ayat 8, yang artinya: “Dia (Allah) menciptakan apa-apa (mahluk) yang kamu tidak mengetahuinya.”

Lalu dalam ayat 74 disebutkan, yang artinya: “Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Sementara pada surat Al-Isra ayat 85, disebutkan yang artinya: “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit.”

Disamping ayat-ayat diatas masih banyak lagi yang lainnya. Itulah sebabnya, manusia harus mengambil sikap sebagaimana ditegaskan sendiri oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam surat Al-Isra ayat 36-37, yang artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabannya. Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung.”

Sebelum Al-Qur’an mengakhiri pengantarnya tentang peristiwa Isra’ Mi’raj ini, digambarkannya bagaimana kelak orang-orang yang tidak mempercayainya, dan bagaimana juga sikap yang harus diambil nabi terhadap orang-orang yang mengingkarinya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam surat An- Nahl, ayat 127-128, yang artinya “Bersabarlah wahai Muhammad; tiadalah kesabaranmu melainkan dengan pertolongan Allah. Janganlah kamu bersedih hati terhadap (keingkaran) mereka. Janganlah pula kamu bersempit dada terhadap apa-apa yang mereka tipu dayakan. Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu Wata’ala

Yang lebih penting lagi untuk kita pertanyakan adalah: mengapa peristiwa Isra’ Mi’raj meski terjadi dalam sejarah perjalanan Nabi? jawabnya adalah Al-Qur’an menekankan betapa pentingnya pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan masyarakat beserta konsolidasinya. Dan hal ini mencapai klimaksnya tergambar pada pribadi hamba Allah Subhanahu Wata’ala yang di Isra’ Mi’rajkan ini, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, serta nilai-nilai yang diterapkannya dalam masyarakat beliau. Dalam surat Al-Isra’ ditemukan banyak petunjuk untuk membina diri dan membangun masyarakat.

Sebagai ‘hikmah’ peristiwa Isra’ Mi’raj itu sendiri antara lain: Pertama, ditemukan petunjuk untuk melakukan sholat lima waktu, dan juga sholat sunnah malam. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam surat Al-Isra’, ayat 78-79, yang artinya: ”Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikanlah pula sholat shubuh. Sesungguhnya sholat shubuh itu disaksikan oleh Malaikat, dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu pada derajat yang terpuji.”

Dan ‘Sholat’ ini pulalah yang merupakan inti dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini. Sholat pada hakekatnya merupakan kebutuhan mutlak untuk mewujudkan manusia seutuhnya, kebutuhan akal pikiran dan jiwa manusia untuk mengejawantahkan diri ketika berhubungan dengan kholiqnya Allah Subhanahu Wata’ala. Sholat juga dibutuhkan oleh manusia, karena sholat dalam pengertiannya yang luas, merupakan dasar-dasar pembangunan, terutama pembangunan diri dan kepribadian. Sehingga merupakan tanda bagi kebejatan akhlak dan kerendahan moral, apabila seseorang datang menghadapkan dirinya kepada Tuhan hanya pada saat ia didesak oleh kebutuhannya.

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu Wata’ala

Kedua, petunjuk-petunjuk lain yang ditemukan dalam rangkaian ayat-ayat yang menjelaskan peristiwa Isra’ dan Mi’raj, adalah membangun manusia seutuhnya menuju masyarakat adil dan makmur. Dalam kaitan ini Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam surat Al-Isra, ayat 16, yang artinya: ”Jika kamu hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah dinegeri itu (supaya mereka mentaati Allah untuk hidup adil dalam kesederhanaan), tetapi mereka durhaka; maka sudah sepantasnyalah berlaku bagi terhadapnya ketentuan Kami kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

Petunjuk hidup untuk bersikap ‘adil’ dalam kesederhanaan dan larangan berfaham individualisme, matrialisme, konsumerisme, dan membangun budaya ‘hedonisme’ kembali mendapatkan penekanan dalam surat yang sama ayat 26-27 yang artinya: “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang terlantar dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghamburkan hartamu secara boros, sesungguhnya orang yang hidup berlebihan (boros) adalah saudara-saudara syaitan. Dan Syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”

Oleh karenanya, kita semua dan setiap orang hidup mestinya tetap dalam kesederhanaan dan keseimbangan. Bahkan kesederhanaan yang dituntut bukan hanya dalam bidang ekonomi saja, tetapi juga dalam bidang ibadah. Hal ini tersirat dari adanya pengurangan jumlah sholat dari lima puluh menjadi lima kali saja dalam sehari semalam. Juga ditemukan petunjuk, dalam surat Al-Isra’ juga yakni yang berkenaan dengan suara ketika melaksanakan sholat. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam surat Al-Isra ayat 110, yang artinya: “Janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam sholatmu dan jangan pula merendahkannya, tetapi carilah jalan tengah diantara keduanya.”

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Akhirnya, dengan momentum peristiwa besar Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dengan segala hikmahnya, marilah kita bangun kehidupan kita kembali dengan semangat persatuan dan kesatuan, menumbuhkan sikap kesederhanaan, dan menjauhkan diri dari gaya hidup glamor sebagai benih budaya Hedonisme. Semoga kita mampu menangkap gejala dan menyuarakan keyakinan tentang adanya ruh intelektualitas yang Maha Agung, Allah Subhanahu Wata’ala di alam semesta ini, serta mampu merumuskan kebutuhan umat manusia untuk memuja-Nya, sekaligus mengabdi kepada-Nya. Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin…

Barokallahuli walakum bima fihi minal ayati wadzikril hakim. Aqulu qauli hadha wastagfiruh innahu huwal ghafururrahim.

___________________________________

*) disampaikan pada Khutbah Jumat di Perguruan Budi Asih, Jakarta, 17 Juli 2009 (24 Rajab 1430H)