Kesadaran umat akan ajaran agama, dewasa ini memang mengalami pergeseran, baik secara pemikiran maupun penerapannya dalam kehidupan. Tentunya ini memberi warna tersendiri bagi kehidupan beragama, khususnya agama Islam. Bahkan jauh sebelum hal ini terjadi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun telah memprediksikan bahwa perbedaan adalah rahmat. Dan memang sejatinya dengan perbedaan itu memunculkan khazanah kehidupan masyarakat yang sebenarnya. Terlebih di wilayah Indonesia dengan beragam suku, agama, ras dan budaya.

Malah, berangkat dari perbedaan suku dan budaya itulah, di negeri ini banyak ditemui beragam pemikiran atas ajaran agama. Tak hanya di perkotaan, di perkampungan pun kini dengan mudah ditemui. Namun, terkadang perkembangan pemikiran ini pula yang menjadi kekhawatiran tersendiri akan adanya pergeseran dan atau bahkan penyelewengan ajaran. Dengan kata lain, lewat ayat-ayat Al-Quran, dan sunnah Rasul segala sesuatunya menjadi digampangkan tanpa merujuk sumber yang menjadi rujukan.

Di sisi lain, pergeseran gaya hidup masyarakat yang kian menjauhi rasa kebersamaan (baca: jamaah) dalam taraf yang memprihatinkan. Terlebih di kota-kota besar atau daerah-daerah penyanggahnya yang tak terlepas dari pengaruh tersebut. Apalagi kini, urbanisasi yang terus meningkat. Maka mau tidak mau, masyarakat pun harus berbaur menyatu dengan ragam suku dan budaya negeri ini. Dari sanalah muncul perbedaan atau persamaan diantara kaum urban dengan penduduk asli. Tak pelak perbedaan sering menimbulkan gesekan-gesekan sosial. Meski memang tak sedikit pula persamaan-persamaan yang akhirnya menyatukan segala keinginan dan tujuan.

Sebagai contoh, ketika seseorang meninggal dunia, ada kalangan yang menerapkan ‘tahlilan’ sebagai bentuk doa pengharapan orang-orang yang ditinggalkan. Mulai dari keluarga, sanak famili hingga tetangga. Bisa jadi kegiatan ini berlaku di suatu daerah atau hanya sebagian. Dan faktanya, di Kampung Buaran khususnya di RT 004/02 dan sekitarnya kebiasaan ini telah berlaku sejak dulu. Sehingga para pendatang pun tak sungkan-sungkan untuk ikut serta.

Tentu saja dari pertemuan itu memberikan nilai tersendiri bagi keluarga maupun tetangga yang hadir. Tidak saja ikut berbela sungkawa, tapi ikatan silaturahmi sebagai umat manusia pun kian erat. Pun dengan kegiatan itupula, seseorang yang ikut serta paling tidak akan mendapat ‘peringatan’ bahwa dirinya pun akan ‘segera menyusul’ menghadap sang Khalik.

Suatu ketika, di awal tahun 2004, di sela-sela tahlilan –yang memang kerap dijalani oleh warga Kampung Buaran ini— di rumah salah satu warga yakni keluarga Bapak Midjo (almarhum), tampak tetangga yang hadir kala itu berbincang-bincang seputar ‘keberagaam’ mereka selama ini. Sadar akan kekuaran dan merasa haus dengan spiritualitas, warga pun akhirnya larut dalam perbincangan ini. Pada akhirnya, pembicaraan pun bermuara pada keinginan bersama untuk kumpul duduk bersama ‘mengaji’ meski usia telah lanjut. Terlebih, di pemukiman yang diapit oleh dua komplek perumahan itu boleh dibilang baru beberapa orang yang menggelar aktivitas keagamaan selain ‘tahlilan’ dan peringatan hari besar.

Gayung pun bersambut, para pemuka masyarakat bersatu untuk mewujudkan keinginan mereka untuk sekedar mengingat kembali atau bahkan belajar dari awal tentang agama meski hanya seminggu sekali. Diantara yang hadir saat itu adalah H Akhmad Mualif, Amat Kamjani, Syahrul, Syahroni, Subagyo, Fendri Maksuli Asir, Tumadzir Alhamzah dan Ustadz H Basyron –salah satu guru ngaji yang senantiasa memimpin kegiatan tahlilan yang dimaksud— serta almarhum Midjo selaku tuan rumah. Dari sanalah akhirnya lahir kesepakatan untuk mengaji bersama dengan system bergilir dari rumah ke rumah. Meski memang akhirnya untuk beberapa pertemuan disepakati menempati Mushollah Al-Amanah yang berada tepat di depan rumah keluarga Amat Kamjani.

Di itu pula akhirnya disepakati pengajian yang mereka gelar itu dengan nama Al-Ittihad. Menilik dari arti kata Ittihad dalam kamus bahasa Arab berarti persatuan. Maka lahirlah Majelis Ta’lim Al-Ittihad. Nama tersebut dianggap cocok dan mewakili kondisi sosial budaya Kampung Buaran RT 004/02 yang notabene banyak dihuni para pendatang. Dalam kesempatan itu pula, jamaah pun secara aklamasi memilih H Akhmad Muallif untuk memimpin majelis yang baru saja dibentuk itu. Tidak lama kemudian, kaum ibu pun membentuk majelis bernama Majelis Ta’lim Al-Mubarakah.

Seiring berjalannya waktu, pengajian yang digelar Majelis Ta’lim Al-Ittihad pun tak ubahnya dengan pengajian-pengajian di tempat lainnya. Pasang surut aktivitas mewarnai dalam perjalanannya hingga sekarang. Dari rumah ke rumah, dari musholah ke musholah yang berpindah tempat hingga kini masih dijalani. Meski kini telah berdiri sebuah mushollah wakaf dari seorang dermawan.

Awalnya memang, Majelis Ta’lim Al-Ittihad kerap mendatangkan ustadz ‘pengajar’ dari luar. Namun setelah urun rembug, maka ada baiknya memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan. Di mana ada beberapa pendatang yang boleh dibilang memiliki kemampuan agama. Maka tampilah beberapa sosok warga untuk mengisi acara pengajian ini, diantaranya H Akhmad Mualif, Tumadzir Alhamzah, dan ustadz Ali Imran. Seiring dengan itu pula, kaum ibu-ibu pun tidak mau kalah ketinggalan dengan kaum bapak dalam hal agama.

Pengajian Majelis Ta’lim Al-Ittihad pun pernah membangun sebuah ‘musholah panggung’ dengan menempati tanah milik seorang warga bernama Arifin. Ya, disebut musholah panggung karena bangunannya mirip rumah panggung. Bangunan fisik mushola panggung berbahan kayu pun berdiri dengan nama Baitul Arifin. Karena satu dan lain hal, mushollah panggung ini sempat berpindah tempat. Hingga suatu ketika kendala ini terdengar oleh seorang muslim yang dermawan dan peduli akan permasalahan umat.

Awal 2008, adalah tahun yang memberikan kebahagiaan tersendiri bagi warga sepanjang jalan pembangunan. Pasalnya, penantian mereka untuk memiliki musholah yang ‘refresentatif’ sebagai tempat ibadah dan silaturahim antar warga akhirnya terwujud. Mushollah Baitul Arifin yang sebelumnya menempati lahan kosong milik keluarga Arifin kemudian pindah tempat di lahan milik pengusaha gas Elpiji akhirnya sesuai kesepakatan diratakan dengan tanah. Sebagai gantinya, berdirilah mushollah yang dengan fasilitas lengkap. Tidak hanya itu mushollah bernama As-Salamah –nama ini diambil dari nama pewakaf— dilengkapi dengan bangunan yang diperuntukan sebagai lembaga pendidikan yang dikelola oleh Yayasan Khadijah Aisyah. Lembaga pendidikan ini memang didirikan untuk membantu kaum dhuafa di sekitar Kampung Buaran.

Kini, kegiatan Majelis Ta’lim Al-Ittihad, selain menyambangi rumah warga –yang memang mengundang secara khusus— setiap pekannya menggelar pengajian di Mushollah As-Salamah. Pun dengan pengajian ibu-ibu yang tergabung dalam Majelis Ta’lim Al-Mubarokah. Bahkan kaum remaja pun ikut meramaikan syiar Islam dengan membentuk pengajian kaum remaja dengan nama Ikatan Remaja Mushollah As-Salamah (IRMAS).

Tentunya, segala aktivitas dari majelis ini akhirnya sering berjalan bersama, seiring dengan adanya keinginan bersama untuk memakmurkan dan mensyiarkan Islam di Kampung Buaran. Tidak hanya itu, berbagai upaya –tidak melulu yang berbau agama— dilakukan bersama. Salah satunya adalah kini tengah dirintis usaha bersama dalam rangka pemberdayaan ekonomi umat. Usaha yang tengah dijalankan adalah penyediaan sembako semisal Beras, Air dalam kemasan (galon dan gelas/botol) dan Gas Elpiji. []

catatan:

Tulisan ini dibuat atas permintaan jajaran pengurus Majelis Ta’lim Al-Ittihad. Dan di majelis inilah saya mencoba membantu berbuat sesuatu sesuai kemampuan. Semoga inilah salah satu bagian dari ladang amalku dalam menjejaki hidup ini. Amin