Lebaran ala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Ketika cahaya fajar 1 Syawal baru saja menyingsing di ufuk timur, mentari memancarkan semburat cahayanya dan mengirimkan hangatnya.

Ketika itulah baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar dari tempat i’tikafnya di masjid Nabawi guna melaksanakan shalat ied bersama-sama kaum muslimin. Beliau juga menyuruh semua kaum muslimin, dewasa, anak-anak, laki-laki dan perempuan baik perempuan suci maupun yang haid keluar bersama menuju tempat sholat. Dengan harapan supaya mendapat keberkahan pada hari suci itu. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu yang diriwayatkan Imam Baihaqi dan Ibnu Majah Radhiallahu ‘Anhuma, dikatakan bahwa, “Rasululah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar dengan seluruh istri dan anak-anak perempuannya pada waktu dua hari raya.”

Sebelum melaksanakan sholat ied, terlebih dahulu Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membersihkan diri. Lalu beliau berdoa, “Ya Allah, sucikanlah hati kami sebagaimana Engkau sucikan badan kami, sucikanlah batin kami sebagaimana Engkau sucikan lahir kami, sucikanlah apa yang tersembunyi dari orang lain sebagaimana Engkau telah sucikan apa yang tampak dari kami.”

Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun memakai wewangian. Sebagaimana diriwayatkan Annas bin Malik, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kita di dua hari raya mengenakan pakaian terbagus yang kita miliki, menggunakan wewangian terbaik yang kita miliki dan berkurban (bersedekah) dengan apa saja yang paling bernilai yang kita miliki.”

Sempurnanya puasa dan lengkapnya persiapan ‘lebaran’ belum dianggap cukup sebelum kembali ke kampong halaman. Berbagi kebahagiaan, melepas rindu dan bersilaturahim dengan keluarga dan kerabat. Ya tradisi ‘mudik’ pun pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang rindu kampong halamannya, kota Mekkah Al-Mukaramah. Betapa tidak, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang sudah enam tahun lamanya bersama kaum Muhajirin di pengasingan yang terus disibukkan oleh peperangan, mulai dari perang Badar, Uhud, Khandaq, Ahzab dan seterusnya akhirnya rindu juga akan kampung halamanannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun akhirnya mudik.

Suatu pagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terbangun dari tidurnya dengan wajah berseri-seri. Ada apa gerangan? Ternyata semalam beliau bermimpi, berliau bersama kaum muslimin akan kembali ke Mekkah untuk berhaji dalam keadaan damai. Tidak ada perang dan tidak ada perlawanan. Sebenarnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah memendam lama keinginan untuk berdoa di Ka’bah. Begitu pula dengan kaum muslimin yang rindu akan kampong halamannya. Tak lain tak bukan, mimpin itu merupakan bagian dari wahyu Allah Subhanahu Wata’ala. Beliau pun akhirnya menyeru kepada kaum Muhajirin untuk menyiapkan perjalanan ke Mekkah guna melakukan umrah dan tawaf di Masjidil Haram. Maka berbondong-bondonglah kaum muslimin untuk mengikuti ajakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Rupanya rencana ‘mudik’ baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terdengar oleh kaum Quraisy di Mekkah, sehingga mereka pun bersiap untuk menghalau kedatangan kaum muslimin yang dianggap musuh bebuyutan mereka, walau hanya untuk berhaji. Saat rombongan tiba di Hudaibiyah, sekitar 13 kilometer dari Mekkah, datanglah utusan kaum Quraisy. Untuk urusan ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengutus Sayyidina Utsman bin Affan Radhiallahu ‘Anhu untuk menemuinya. Sekembalinya menemui utusan kaum Quraisy, beliau mengabarkan bahwa kaum Quraisy tidak bersedia menerima kedatangan kaum muslimin dengan berbagai alasan. Anehnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun memenuhi keingiann itu, yang kemudian hari dikenal sebagai perjanjian Hudaibiyah. Setelah setahun berlalu, sesuai kesepakatan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan pengikutnya akhirnya diperbolehkan mengunjungi Ka’bah hanya untuk umrah.

Rupanya gencatan senjata antar kaum muslimin dan kaum musyrikin yang dibingkai dalam perjanjian Hudaibiyah itu pun pecah karena ulah kaum musyrikin sendiri. Akhirnya dengan kekuatan sepuluh ribu orang pasukan dibawah pimpinan langsung Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bergerak menuju Mekkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus melepas rindu akan kampung halaman.

Singkat cerita, setelah melalui perjalanan panjang dan penuh perjuangan, pengorbanan, kerinduan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berserta kaum muslimin terhadap kota kelahirannya, Mekah terobati sudah. Disaksikan penduduk Mekah dan sepuluh ribu pasukannya, beliau menyentuh Hajar Aswad dan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali.

Tradisi mudik yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tidak hanya bermakna silaturahmi dan kegembiraan. Mudik memiliki makna yang amat mendalam, mencerminkan kerinduan manusia yang luar biasa pada asal muasalnya, pada tanah kelahirannya. Dan karena asal muasal kita yang hakiki adalah Allah Subhanahu Wata’ala, mudik sebenarnya hanyalah bentuk kecil kerinduan kita yang luar biasa kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Pada gilirannya, nanti kita pun akan melakukan ‘mudik’ yang abadi yakni ke hadirat Ilahi Robbi.

@ Hayat FR

Semangat Mudik

Bulan Ramadhan menyisakan sepuluh hari terakhir. Hitung mundur dimulai untuk menuju Lebaran. Hari raya Idul Fitri bagi umat muslim. Tak terkecuali bagi muslim di negeri ini yang secara kuantitas terbanyak sealam dunia. Oleh sebab itu, momen Lebaran di Indonesia menjadi sangat menarik karena perayaan Idul Fitri melibatkan ratusan juta manusia di berbagai pelosok negeri.

Tradisi pulang kampung, yang kemudian biasa disebut mudik adalah salah satu fenomena sosial tiap tahun menjelang Lebaran di negeri ini. Mudik menjelma menjadi sebuah pergerakan manusia urban secara besar-besaran dari kota-kota besar menuju kampung halaman asal mereka. Dalam waktu yang hampir bersamaan, biasanya mulai terjadi seminggu jelang Lebaran (H-7), jutaan orang berduyun-duyun pulang kampung dengan menggunakan bermacam moda transportasi. Baik transportasi massal (publik) maupun pribadi.

Karena melibatkan begitu banyak orang, mudik tak ubahnya pertunjukan kolosal yang dilakoni warga perantauan di negeri ini. Lihat saja, sebentar lagi jalan-jalan utama lintas kota akan ramai dengan kendaraan pemudik. Terminal, stasiun, pelabuhan, hingga bandar udara penuh sesak oleh para pemudik. Agar tak kehabisan tiket untuk pulang kampung, sebagian orang sudah membelinya sejak jauh-jauh hari.

Ya, ketika pemerintah masih belum becus sekedar menangani urusan transportasi publik, untuk bisa pulang kampung dengan nyaman dan aman menjadi tidak mudah. Mudik perlu perjuangan dan butuh pengorbanan. Paling tidak perjuangan untuk macet berjam-jam di jalanan atau pengorbanan berdesak-desakkan saat menumpang kendaraan umum. Belum lagi maraknya tindak kriminal yang menjadi ancaman tersendiri bagi para pemudik.

Kondisi tersebut pun akhirnya ‘memaksa’ warga yang hendak pulang kampung mencari cara alternatif untuk mudik. Mudik dengan menggunakan sepeda motor adalah salah satunya. Beberapa tahun terakhir, pulang kampung menggunakan sepeda motor banyak dipilih para pemudik. Secara keamanan dan kenyamanan sebenarnya sepeda motor bukanlah jenis kendaraan yang cocok digunakan untuk perjalanan jarak jauh. Apalagi dengan jumlah penumpang dan barang bawaan yang banyak. Bahkan tak jarang pemudik yang nekat membawa balita atau anak mereka pulang kampung menggunakan sepeda motor.

Lagi-lagi mudik untuk bisa Lebaran di kampung halaman memang butuh perjuangan. Termasuk mudik dengan menggunakan sepeda motor yang katanya lebih hemat biaya ketimbang naik bus, kereta api atau transportasi umum lainnya. Selain harus menempuh jarak yang cukup jauh, pemudik sepeda motor juga masih harus berpacu dengan kendaraan lain di jalan-jalan yang kondisinya tidak semuanya mulus.

***

Lalu, apakah berbagai resiko yang harus dihadapi saat mudik, baik itu menggunakan transportasi umum, kendaraan pribadi maupun sepeda motor, mengurungkan niat dan semangat orang-orang untuk pulang kampung saat Lebaran? Ternyata jawabannya tidak.

Sebagai sebuah tradisi, pulang kampung atau mudik tidak bisa dilewatkan begitu saja bagi masyarakat urban setiap Lebaran. Karena di dalam tradisi mudik ada nilai-nilai kehidupan sosial keagamaan dan keluarga yang harus tetap dijaga. Agama, dalam hal ini Islam, mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menjaga tali silaturahim dengan orang tua, saudara, tetangga dan orang-orang yang dikenal. Termasuk saling memaafkan yang dianjurkan agama saat hari raya Idul Fitri.

Berbagai nilai kehidupan sosial yang ada dalam tradisi mudik tersebutlah yang menjadikan orang-orang begitu bersemangat untuk pulang kampung saat Lebaran. Tak peduli jalanan macet, angkutan umum penuh sesak, dan resiko lain yang mungkin menghadang langkah mereka menuju kampung halaman.

Tatanan kehidupan sosial seperti Itulah yang oleh Anthony Giddens disebut sebagai tatanan sosial pasca-tradisional. Dalam hal ini tatanan sosial pasca-tradisional bukanlah tatanan dimana tradisi ditinggalkan oleh masyarakatnya. Ketimbang dihancurkan, tradisi lebih direformasi sedemikian rupa.

Meski tradisi selalu berbenturan dengan nilai-nilai kehidupan modern, namun dalam perkembangan masyarakat modern saat ini kembali kepada tradisi merupakan hal penting dalam mengkonsolidasikan tatanan sosial. Bahkan tradisi pun memiliki kebenarannya sendiri. Suatu kebenaran ritual yang dinyatakan benar oleh mereka yang meyakini. Dan itu terdapat di hampir setiap wilayah kehidupan. Termasuk pulang kampung atau mudik saat Lebaran adalah salah satunya.

***

Betapa pulang kampung saat Lebaran menjadi siklus kebahagiaan tahunan bagi rakyat kebanyakan di negeri ini. Bahagia dan gembira karena bisa berkumpul bersama keluarga, paling tidak untuk beberapa hari, setelah terpisah selama satu tahun bahkan lebih. Bertemu dengan orang-orang yang dicintai untuk melepas rindu. Dan mungkin juga bertemu orang yang dimusuhi untuk saling memaafkan.

Selamat mudik, selamat sampai tujuan.

Fahmi FR @310810

Ketika cahaya fajar 1 Syawal baru saja menyingsing di ufuk timur, mentari memancarkan semburat cahayanya dan mengirimkan hangatnya. Ketika itulah baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar dari tempat i’tikafnya di masjid Nabawi guna melaksanakan shalat ied bersama-sama kaum muslimin. Beliau juga menyuruh semua kaum muslimin, dewasa, anak-anak, laki-laki dan perempuan baik perempuan suci maupun yang haid keluar bersama menuju tempat sholat. Dengan harapan supaya mendapat keberkahan pada hari suci itu. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu yang diriwayatkan Imam Baihaqi dan Ibnu Majah Radhiallahu ‘Anhuma, dikatakan bahwa, “Rasululah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar dengan seluruh istri dan anak-anak perempuannya pada waktu dua hari raya.”

Sebelum melaksanakan sholat ied, terlebih dahulu Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membersihkan diri. Lalu beliau berdoa, “Ya Allah, sucikanlah hati kami sebagaimana Engkau sucikan badan kami, sucikanlah batin kami sebagaimana Engkau sucikan lahir kami, sucikanlah apa yang tersembunyi dari orang lain sebagaimana Engkau telah sucikan apa yang tampak dari kami.”

Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun memakai wewangian. Sebagaimana diriwayatkan Annas bin Malik, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kita di dua hari raya mengenakan pakaian terbagus yang kita miliki, menggunakan wewangian terbaik yang kita miliki dan berkurban (bersedekah) dengan apa saja yang paling bernilai yang kita miliki.”

Sempurnanya puasa dan lengkapnya persiapan ‘lebaran’ belum dianggap cukup sebelum kembali ke kampong halaman. Berbagi kebahagiaan, melepas rindu dan bersilaturahim dengan keluarga dan kerabat. Ya tradisi ‘mudik’ pun pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang rindu kampong halamannya, kota Mekkah Al-Mukaramah. Betapa tidak, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang sudah enam tahun lamanya bersama kaum Muhajirin di pengasingan yang terus disibukkan oleh peperangan, mulai dari perang Badar, Uhud, Khandaq, Ahzab dan seterusnya akhirnya rindu juga akan kampung halamanannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun akhirnya mudik.

Suatu pagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terbangun dari tidurnya dengan wajah berseri-seri. Ada apa gerangan? Ternyata semalam beliau bermimpi, berliau bersama kaum muslimin akan kembali ke Mekkah untuk berhaji dalam keadaan damai. Tidak ada perang dan tidak ada perlawanan. Sebenarnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah memendam lama keinginan untuk berdoa di Ka’bah. Begitu pula dengan kaum muslimin yang rindu akan kampong halamannya. Tak lain tak bukan, mimpin itu merupakan bagian dari wahyu Allah Subhanahu Wata’ala. Beliau pun akhirnya menyeru kepada kaum Muhajirin untuk menyiapkan perjalanan ke Mekkah guna melakukan umrah dan tawaf di Masjidil Haram. Maka berbondong-bondonglah kaum muslimin untuk mengikuti ajakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Rupanya rencana ‘mudik’ baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terdengar oleh kaum Quraisy di Mekkah, sehingga mereka pun bersiap untuk menghalau kedatangan kaum muslimin yang dianggap musuh bebuyutan mereka, walau hanya untuk berhaji. Saat rombongan tiba di Hudaibiyah, sekitar 13 kilometer dari Mekkah, datanglah utusan kaum Quraisy. Untuk urusan ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengutus Sayyidina Utsman bin Affan Radhiallahu ‘Anhu untuk menemuinya. Sekembalinya menemui utusan kaum Quraisy, beliau mengabarkan bahwa kaum Quraisy tidak bersedia menerima kedatangan kaum muslimin dengan berbagai alasan. Anehnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun memenuhi keingiann itu, yang kemudian hari dikenal sebagai perjanjian Hudaibiyah. Setelah setahun berlalu, sesuai kesepakatan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan pengikutnya akhirnya diperbolehkan mengunjungi Ka’bah hanya untuk umrah.

Rupanya gencatan senjata antar kaum muslimin dan kaum musyrikin yang dibingkai dalam perjanjian Hudaibiyah itu pun pecah karena ulah kaum musyrikin sendiri. Akhirnya dengan kekuatan sepuluh ribu orang pasukan dibawah pimpinan langsung Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bergerak menuju Mekkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus melepas rindu akan kampung halaman.

Singkat cerita, setelah melalui perjalanan panjang dan penuh perjuangan, pengorbanan, kerinduan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berserta kaum muslimin terhadap kota kelahirannya, Mekah terobati sudah. Disaksikan penduduk Mekah dan sepuluh ribu pasukannya, beliau menyentuh Hajar Aswad dan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali.

Tradisi mudik yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tidak hanya bermakna silaturahmi dan kegembiraan. Mudik memiliki makna yang amat mendalam, mencerminkan kerinduan manusia yang luar biasa pada asal muasalnya, pada tanah kelahirannya. Dan karena asal muasal kita yang hakiki adalah Allah Subhanahu Wata’ala, mudik sebenarnya hanyalah bentuk kecil kerinduan kita yang luar biasa kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Pada gilirannya, nanti kita pun akan melakukan ‘mudik’ yang abadi yakni ke hadirat Ilahi Robbi.

Cara Neolib Cegah Demam Berdarah

“Assalaamu’alaikum”. Seorang perempuan mengucap salam di halaman rumah. “Wa alaikum salaam”. Aku menjawab salam sambil keluar dari dalam rumah. “Ada apa ya?” aku bertanya pada perempuan itu. “Permisi, pak. Kami sedang mengadakan kegiatan fogging untuk mencegah penyebaran nyamuk agar keluarga bapak dan warga di lingkungan ini terhindar dari serangan penyakit demam berdarah dan chikungunya.” Kata perempuan itu menjelaskan maksud kedatangannya. “Jadi nanti rumah bapak akan di-fogging oleh petugas kami,” tambahnya.

Hmmm…

“Gratis lho pak. Tidak dipungut biaya,” katanya. Belum sempat aku menanggapi, perempuan itu melanjutkan penjelasannya. “Bapak cukup membayar bubuk Abate ini,” ujarnya sambil menyodorkan lima bungkus kecil bubuk Abate yang sejak tadi ia pegang. “Satu bungkus harganya empat ribu rupiah, pak.”

Baiklah. Kini giliranku untuk bicara. “Begini ya, sepengetahuanku untuk urusan fogging dan pemberian bubuk Abate itu menjadi tugas Dinas Kesehatan. Dan tidak dikomersilkan seperti ini,” kataku. “Iya pak,” perempuan itu langsung menanggapi. “Tapi, biasanya petugas dari dinas atau dari puskesmas itu melakukan fogging setelah ada warga yang meninggal karena demam berdarah atau chikungunya,” papar perempuan itu meyakinkan.

Ah, yang bener? kalau begitu payah juga petugas atau pegawai dinas yang mengurusi masalah kesehatan masyarakat di negeri ini. Baru bekerja setelah ada yang mati. Aku berucap dalam hati mendengar penjelasan perempuan itu. Aku membolak-balik sebungkus bubuk Abate. Isinya cuma 1 gram. Kata perempuan itu satu bungkus digunakan untuk 50 liter air.

“Saya beli satu bungkus saja,” kataku kepada perempuan itu. Jadi aku cukup merogoh kocek empat ribu rupiah. “Tidak bisa, pak.” Sergah perempuan itu. “Kalau rumah bapak mau di-fogging, bapak harus membayar lima bungkus. Ini sudah satu paket.” Perempuan itu kembali menyodorkan bungkus Abate itu kepadaku. “Kalau mau beli Abate-nya saja minimal dua bungkus,” jelasnya.

“Terima kasih. Saya cuma ada uang empat ribu.” Aku memberikan uang kertas dua lembar pecahan dua ribu kepada perempuan itu dan langsung masuk ke dalam rumah. Sempat aku lihat perempuan itu beranjak dari halaman rumah dengan menggerutu. Maaf anda kurang beruntung! Hehehe….

***
Cerita di atas bukan karangan fiktif. Itu benar-benar terjadi kemarin. Kejadian tersebut mengingatkanku pada kondisi dimana saat ini betapa peran pemerintah benar-benar telah dilucuti oleh sebuah sistem yang bernama kapitalis. Terlebih perkembangan kapitalisme kini beranjak menjadi apa yang saat ini diistilahkan sebagai proyek Neoliberlaisme. Dimana pokok dari neoliberalisme adalah menyingkirkan peran sosial Negara/pemerintah bagi kesejahteraan warganya.

B. Herry Priyono menyebut neoliberalisme awalnya bukan sekedar urusan ekonomi. Tetapi suatu proyek filosofis yang beraspirasi menjadi teori komprehensif tentang manusia dan tatanan masyarakat. Ragam relasi manusia bisa saja disebut kultural, politik, sosial, psikologis, estetik, spiritual dan seterusnya. Namun, bila dikatakan secara lugas, beragam relasi itu dipandu prinsip transaksi laba-rugi yang berlaku dalam kinerja ekonomi pasar.

Neoliberalisme berupaya meradikalisasi semua hubungan sosial manusia yang ditentukan oleh kinerja pasar. Sehingga menuntut prinsip pasar diterapkan bukan hanya pada pemenuhan kebutuhan barang dan jasa. Proyek neoliberalisme prinsip itu juga diterapkan untuk pengadaan atau pelayanan, misal, pendidikan termasuk kesehatan oleh pihak swasta atau pengusaha. Ketika berbicara swasta, maka motifnya sudah pasti untuk mencari keuntungan.

Maka terjadilah untuk sekedar fogging dan pemberian bubuk Abate saja kini telah diserahkan kepada perusahaan swasta. Sekedar informasi, perempuan yang menawarkan bubuk Abate kepadaku itu mengaku bekerja di perusahaan swasta bernama Usaha Mandiri yang berkantor di Kuningan, Jawa Barat. Hanya dengan selembar surat keterangan dari pihak desa lengkap dengan stempel serta tanda tangan kepala desa, mereka bisa menyerbu setiap rumah warga untuk menjual bubuk Abate dengan iming-iming fogging gratis.

Lalu dimana pegawai Dinas Kesehatan? Puskesmas? Posyandu? Ketika untuk urusan mencegah penyebaran nyamuk saja diserahkan kepada swasta?! Jawabannya, para pegawai yang bekerja pada dinas terkait telah dikarantina neoliberalisme! Mereka baru (mau) muncul dan bertindak ketika logika pasar memposisikan mereka untuk bisa mendapat keuntungan materi. Atau, mengutip pernyataan perempuan si penjual Abate, biasanya petugas dari dinas atau dari puskesmas melakukan fogging setelah ada warga yang meninggal.

Neoliberalisme menerapkan homo oeconomicus sebagai model prilaku manusia dan menjadikan logika pasar sebagai koordinasi masyarakat. Negara adalah perusahaan dan pejabat adalah pengusaha yang menjual kota hingga desa sekalipun beserta sumber daya apa saja yang bisa ditawarkan kepada investor. Sehingga saat ini seakan tidak ada lagi pelayanan kesehatan dari pemerintah kepada warganya. Karena yang ada hanyalah bisnis pelayanan kesehatan.

***
Aku bukan tidak peduli pada kesehatan ketika hanya membeli sebungkus bubuk Abate sehingga rumahku tidak di-fogging. Aku sepakat dengan istilah ‘mencegah lebih baik daripada mengobati’ serta fogging dan menaburkan bubuk Abate sebagai bentuk pencegahan terhadap penyebaran nyamuk penyebab demam berdarah. Tapi, ketika fogging dan bubuk Abate sudah dikomersilkan sedemikian rupa maka aku memilih cara 3 M (Menutup, Menguras, dan Mengubur) untuk mencegah demam berdarah. Bukankah itu lebih efektif?

Sebelum mengakhiri tulisan ini, aku panjatkan do’a bagi keluarga, tetangga, dan semua orang yang membaca tulisan ini agar terjaga dan terhindar dari penyakit demam berdarah, dan segala penyakit lainnya. Dan bagi yang sedang sakit, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa segera memberikan kesembuhan tanpa harus menunggu kita terbelit jerat bisnis pelayanan kesehatan di negeri ini. Amin.

salam,
Fahmi FR

Puasa: Melawan Konsumerisme

Ramadhan sebentar lagi tiba. Bulan suci bagi umat Islam untuk menjalankan kewajiban berpuasa selama sebulan penuh. Bulan yang penuh keberkahan, rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Oleh karena itu bulan Ramadhan sering dijadikan sebagai momentum untuk ‘membersihkan’ diri dari dosa-dosa yang telah diperbuat. Selain itu, tentu saja pengharapan untuk menjadi umat yang bertakwa dan balasan masuk surga.

Keistimewaan Ramadhan juga karena di dalamnya wahyu pertama al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sehingga Ramadhan selalu mendapat sambutan dengan semangat keagamaan dan spiritualitas yang tinggi dari umat Islam. Berbagai persiapan untuk menyambut datangnya bulan puasa pun dilakukan jauh-jauh hari. Baik yang bersifat mental-spiritual maupun fisik-material.

Menjalankan kewajiban puasa Ramadhan di abad modern bagi umat Islam benar-benar penuh godaan. Bukan hanya godaan untuk tidak makan dan tidak minum di siang hari serta dari segala hal yang membatalkan puasa. Di satu sisi umat Islam juga harus menahan diri dari godaan dan serangan budaya konsumerisme yang selama bulan Ramadhan muncul atas nama agama.

Kondisi ini tentu tidak terlepas dari perkembangan kapitalisme lanjut sebagai bentuk paling mutakhir sistem ekonomi kapitalis yang menempatkan ‘konsumsi’ sebagai titik sentral kehidupan dalam tatanan sosial masyarakat kapanpun dan di manapun. Sesuatu yang bertolak belakang dengan substansi diwajibkannya puasa agar seseorang mampu mengendalikan hawa nafsu (konsumtif), meningkatkan kepedulian terhadap sesama dan lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sehingga menjadi insan yang bertakwa.

***

Umat Islam, tiap menjelang Ramadhan selalu diposisikan sebagai konsumen potensial untuk meraup keuntungan bisnis. Sensibilitas keagamaan bagi para pebisnis menjadi senjata yang ampuh untuk mendongkrak tingkat konsumsi dan belanja masyarakat dibanding hari-hari biasa. Terlebih Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia.

Fenomena ini tentu saja dapat dengan mudah ditemukan. Lihat di sekitar kita sekarang ini. Berbagai macam barang-barang konsumsi diproduksi dan ditawarkan spesial menyambut bulan suci Ramadhan. Mulai dari sandang, pangan, hingga kartu telepon seluler sekalipun. Termasuk hiburan seperti sinetron, musik, humor, dan ceramah pun sudah mulai tayang atas nama bulan suci Ramadhan. Kemudian muncullah istilah sinetron religi atau album religi para penyanyi maupun grup band yang selalu ditunggu para penggemarnya.

Melalui iklan di media cetak maupun elektronik berbagai komoditas yang diproduksi dengan sensibilitas keagamaan dilempar ke pasar. Tentu saja selama bulan puasa produk yang dibuat sudah dibalut dengan ‘pakaian’ bulan suci Ramadhan, Islam. Dan yang tidak kalah penting, sadar maupun tidak sadar, sesungguhnya di situlah terjadi proses penanaman semacam pembenaran atau ‘Islamisasi’ atas perilaku konsumtif umat Islam selama bulan puasa. Idi Subandy Ibrahim menyebutnya sebagai upaya kapitalisasi Islam atau penaklukan semangat keagamaan oleh pasar, dunia bisnis, atau kapitalisme itu sendiri.

Proyek penaklukan semangat keagamaan oleh pasar tersebut tentu saja sudah berlangsung sejak jauh-jauh hari sebelum bulan Ramadhan datang. Kemudian dipusatkan pada Ramadhan selama satu bulan penuh sampai lebaran. Bahkan lebaran pun bisa menjadi semacam ‘festival konsumsi’ dimana pergantian mode dan tata busana dimanfaatkan industri untuk kepentingan bisnis semata. Sangat memprihatinkan ketika semangat atau mungkin juga kebangkitan keagamaan harus takluk pada pentas konsumsi massa.

Perkembangan kapitalisme global membuat, bahkan memaksa, momen bulan puasa tak lebih hanya menjadi komoditas yang terus menerus diproduksi demi sebuah keuntungan bisnis. Umat Islam diarahkan pada suatu kondisi dimana seolah-olah ‘hasrat’ mengkonsumsi di bulan Ramadhan selalu dilegitimasi oleh ‘kebutuhan’ rohaniah mereka. Sepertinya ibadah puasa nantinya kurang sempurna jika tidak mengkonsumsi makanan serta minuman tertentu atau segala yang disodorkan oleh media dan iklan dengan mengatasnamakan agama. Berbagai kegiatan bisnis diselenggarakan di bulan puasa sekaligus menciptakan kebutuhan yang bukan lagi esensial tapi artifisial.

***

Islam menempatkan ibadah puasa pada posisi yang istimewa. Puasa merupakan ibadah yang memadukan keikhlasan hubungan antara manusia dengan Allah SWT (hablum minallah) dan keihklasan hubungan antara manusia dengan manusia (hablum minannas). Secara pribadi puasa merupakan media mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bahkan, karena sangat pribadi Allah SWT sendirilah yang akan membalasnya. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, “Semua amal perbuatan Bani Adam menyangkut dirinya pribadi kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan karena itu Akulah yang langsung membalasnya.”

Sementara dari sisi sosial puasa mengajarkan untuk lebih peduli kepada sesame. Memperbanyak amal sholeh dan bukan menumpuk nafsu konsumtif sendiri. Puasa hendak mengajarkan bagaimana mengendalikan diri dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh sebab itu, Islam pun menegaskan kepedulian social ini dengan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah di akhir Ramadhan.

Melalui dua dimensi itulah puasa bertujuan membentuk pribadi-pribadi yang bertakwa. Takwa adalah derajat paling tinggi di sisi Allah SWT dan mustahil dicapai melalui pemenuhan nafsu pribadi yang bersifat material dan simbolik. Sebab ketakwaan seseorang tidak dinilai dari symbol-simbol artificial yang menempel di tubuh.

Puasa ingin mengajak umat Islam untuk membebaskan diri dari pemenuhan aneka kebutuhan simbolik. Termasuk membebaskan diri dari belenggu konsumerisme. Ramadhan sebentar lagi. Semoga kita bisa menyambutnya dengan penuh semangat dan menjadikannya sebagai momentum kebangkitan keagamaan yang tidak berhenti pada level simbolik semata. Amin.

Marhaban ya Ramadhan…

Fahmi FR

Harga Sehelai Rambut

Tahukah Anda berapa harga sehelai rambut yang ada di tubuh kita? Lantas, pernahkah kita menghitung berapa rambut yang tumbuh di kepala kita misalnya, dan jika dihitung berapa harga totalnya?? Dibawah ini ada tulisan seputar harga nafas manusia yang digambarkan oleh seorang ilmuan bernama Syaefudin, Asisten Dosen Metabolisme, Departemen Biokimia, FMIPA-Institut Pertanian Bogor (IPB). Semoga tulisan ini paling tidak memberikan dan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala. Dan kita pun termasuk orang-orang yang pandai bersyukur… amin.. semoga. Di salah satu klinik penanaman rambut di Hongkong, untuk menanam sehelai rambut membutuhkan dana sebesar $ 20 (HKD). Pernahkah kita mensyukuri atas karunia rambut yang diberikan Allah pada kita? Subhanallah.

Ada yang menganggap bahwa rambut adalah mahkota. Oleh karenanya, tak aneh jika banyak orang mengidamkan kepala yang terus ditumbuhi rambut. Sesekali, mereka berkunjung ke salon khusus rambut. Bahkan, ada pula yang berkala mengunjungi salon untuk sekedar menata dan memanjakan penampilan mahkota kepalanya.

Di sisi lain, ada juga yang bersikap biasa saja terhadap setiap helai rambut di tubuhnya. Mereka acuh, atau bahkan bersikap biasa saja dengan rambut yang dipunya. Tak ada waktu rutin ke salon, apalagi berkeramas khusus dengan tujuan merawat mahkota kepala.

Terlepas dari itu semua, pernahkah kita menghitung berapa besar nilai setiap helai rambut yang Allah Subhanahu Wata’ala berikan? Jadi, tak hanya merawat dan menjaga rambut agar tetap tumbuh serta elok dipandang mata. Apalagi, membiarkan begitu saja nikmat fisik yang Allah Subhanahu Wata’ala amanahkan kepada manusia. Namun, hendaknya kita mencoba menghitung berapa nilai karunia Sang Pencipta dari hanya helaian rambut di setiap jengkal kulit manusia. Dengan itu, harapannya manusia lebih bisa bersyukur dengan setiap pemberian Rabb-nya.

Sejatinya, untaian rambut di kepala bukan sekedar mahkota. Ia juga berguna sebagai pelindung tubuh, khususnya kulit kepala dari bahaya sinar ultraviolet. Setidaknya, itulah hasil penelitian ilmuwan Australia baru-baru ini.

Harga Helai Rambut
Rambut, sebagai pelindung tubuh dari panas sekaligus pemanis rupa manusia adalah nikmat Allah Subhanahu Wata’ala yang tak terkira. Betapa tidak, bila dihitung harga setiap helainya maka yang ada malah manusia akan tercengang lantaran besarnya jumlah ‘kekayaan’ yang Sang Pencipta titipkan kepada mereka.

Penghitungan paling mudah yaitu membandingkan sejumlah rambut yang dimiliki, misalnya di kepala, dengan harga seutas rambut dan biaya penanamannya ke kulit manusia. Pencangkokan tersebut merupakan salah satu cara mutakhir untuk memperbaiki penampilan. Para pakar membuat dan mengembangkan teknologi penanaman rambut bagi siapa saja, baik yang berkepala botak maupun yang hanya ingin melebatkan rambut.

Di salah satu klinik penanaman rambut di Hongkong, untuk menanam sehelai rambut membutuhkan dana sebesar $ 20 (HKD). Bila ditukar dengan nilai rupiah, setiap rambut dihargai Rp 25.459 (data Bank Indonesia pada 20 Oktober 2009). Itu hanya biaya pembelian seutas rambut, belum biaya jasa konsultasi dokter, uji pemeriksaan awal, dan pengobatan.

Bila jumlah rata-rata rambut yang dimiliki manusia normal sebanyak 80 helai/cm2 kulit kepala (orang Asia) atau 120 helai/cm2 kepala (orang Eropa), paling sedikit uang yang harus disiapkan untuk penanaman rambut sekitar Rp 2.036.720 sampai Rp 3.055.080 untuk setiap cm2-nya. Atau, jika rata-rata kepala manusia normal mengandung 100.000 utas rambut berarti setiap orang harus membayar sejumlah Rp 2.545.900.000 atau sekitar 2.5 Milyar! Subhaanallaah.

Nilai tersebut lebih mengejutkan bila melihat kenyataan, bahwa rambut manusia ternyata tak hanya tumbuh sekali seumur hidup. Namun, bisa berulang kali. Bayangkan saja, bila setiap 10 tahun sekali rambut tersebut rontok semua dan harus ditanam ulang, maka berapa banyak uang yang perlu dibayarkan seseorang berumur 60 tahun?

Belum lagi jika orang tua memiliki anak, dan ketika anak lahir diwajibkan membayar biaya penanaman rambut. Bayangkan jika anaknya 2, 3, 4 atau lebih, maka berapa triliun yang perlu disiapkan? Ini sekedar rambut di kepala, belum di alis, bulu mata, dan tempat lainnya.

Demikianlah perhitungan karunia Allah Subhanahu Wata’ala hanya dari utasan rambut, belum yang lainnya. Sungguh besar kasih sayang-Nya sehingga tak sepeser pun dikeluarkan manusia untuk mendapatkan mahkota penghias raga. Maka sepatutnyalah manusia berterima kasih atas pemberian nikmat yang tak pernah ia minta ini, namun begitu saja diberi lantaran kasih sayang Allah Subhanahu Wata’ala yang tak terbatas pada manusia. Sebaliknya tidaklah pantas manusia yang lemah bersikap congkak di dunia.

Andai saja manusia mau berpikir dengan keagungan dan kemurahan Sang Pencipta, niscaya ia akan terus bersyukur dan senantiasa menghiasi diri dengan amal ibadah. Hal ini telah Allah Subhanahu Wata’ala ingatkan dalam Al Qur’an: “Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS. Az Zumar 39:66)

Bagi manusia yang telah mengerti akan besarnya pemberian Allah Subhanahu Wata’ala, lalu diikuti syukur atas apa yang diterimanya maka Sang Pemilik nikmat akan tambahkan lagi karunia lainnya sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam Al Qur’an: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim 14: 7).

Dibalik Indahnya Senyuman

Senyum itu gratis tetapi hasilnya berlimpah;

Senyum dapat memperkaya yang menerimanya, tanpa merugikan yang memberi;

Terjadinya bagikan kilat namun kenangannya tak terlupakan;

Tiada orang yang cukup kaya yang dapat hidup tanpa senyum, dan tiada orang yang miskin yang tidak diperkaya olehnya;

Senyum menciptakan kebahagiaan di rumah, menjalin hubungan bisnis yang baik, dan tanda balasan dari para sahabat.

Senyum adalah tempat perhentian bagi yang lelah, terang bagi yang putus asa, sinar matahari bagi yang sedih dan obat alami penyembuh masalah.

Namun senyum tidak dapat dibeli, diminta, dipinjam, atau pun dicuri, karena senyum tiada berarti sampai ia diberikan!

Jika seseorang terlalu letih untuk memberikan Anda senyuman, berikanlah satu dari senyum Anda.

Karena tiada seorang pun yang lebih membutuhkan sebuah senyum daripada orang yang tidak memiliki senyum untuk diberikan.

Sekarang, “tersenyumlah!”

Sekedar Catatan:
Dalam fisiologi, senyum adalah ekspresi wajah yang terjadi akibat bergeraknya atau timbulnya suatu gerakan di bibir atau kedua ujungnya, atau pula di sekitar mata. Kebanyakan orang senyum untuk menampilkan kebahagian dan rasa senang.

Senyum itu datang dari rasa kebahagian atau kesengajaan karena adanya sesuatu yang membuat dia senyum, Seseorang sendiri kalau senyum umumnya bertambah baik raut wajahnya atau menjadi lebih cantik ketimbang ketika dia biasa saja atau ketika dia marah.

Betapa Sayangnya Allah Subhanahu Wata’ala pada Kaum Hawa

Ya berbahagialah menjadi wanita, karena sesungguhnya betapa sayangnya Allah Subhanahu Wata’ala terhadap makhluk yang satu ini….

Namun ditengah derasnya arus informasi serta budaya-budaya pemahaman dan pemikiran yang terus menghujam para wanita begitu dahsyatnya, sehingga terkadang lupa bahwa sebenarnya tanpa dipertanyakan pun sejatinya Allah Subhanahu Wata’ala sayang dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun menganjurkan sekalian makhluk didunia ini untuk menjaga dan memuliakannya. Mungkin apa yang sering digembar-gemborkan oleh “mereka” yang mempertanyakan status dan posisi antara wanita dan pria/laki-laki dibawah ini akan bisa membuka kembali pemahaman yang selama ini mungkin belum banyak diketahui oleh “mereka”

Kaum feminis bilang susah jadi wanita , Lihat saja peraturan dibawah ini :
1. Wanita auratnya lebih susah dijaga berbanding lelaki.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya kurang berbanding lelaki.
4. Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6. Wanita wajib taat kpd suaminya tetapi suami tak perlu taat pada isterinya.
7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
8. Wanita kurang dalam beribadat karena masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki. makanya mereka nggak capek-capeknya berpromosi untuk “MEMERDEKAKAN WANITA ISLAM”

Lantas, Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya) ?

1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita.
2. Wanita perlu taat kepada suami tetapi lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya. Bukankah ibu adalah seorang wanita?
3. Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, manakala lelaki menerima pusaka perlu menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.
4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk Allah Subhanahu Wata’ala di mukabumi ini, dan matinya jika karena melahirkan adalah syahid.
5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita ini: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.
6. Manakala seorang wanita pula, tanggungjawab terhadapnya ditanggung oleh 4 org lelaki ini: suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.
7. Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui pintu Syurga yang disukainya cukup dengan 4 syarat saja :

  • shalat 5 waktu,
  • shaum di bulan Ramadhan,
  • taat pada suaminya dan
  • menjaga kehormatannya.

8. Seorang lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah tetapi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada Allah Subhanahu Wata’ala akan turut menerima pahala seperti pahala orang pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

Masya Allah… demikian sayangnya Allah Subhanahu Wata’ala pada wanita bukan? Tapi kenapa banyak yang melupakan hal itu?? atau karena kurangnya pemahaman?? semoga informasi ini bermanfaat dan memberikan pencerahan bagi yang belum mengetahui dan kian menguatkan keyakinan bagi yang telah memahaminya… amiin