Bismillah, Wa Alhamdulillah, Allahumma Sholli Alaa Sayyidina Muhammad Wa Mauwwalah… ini sekedar berbagi materi khutbah yang disampaikan pada Jum’at lalu. Semoga bermanfaat.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala dan tentunya sudah menjadi kewajiban kita untuk selalu bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita semua hingga detik ini. Karena dengan bersyukur maka nikmat yang Allah Subhanahu Wata’ala berikan kepada kita akan bertambah. Dan yakinlah kenikmatan yang Allah Subhanahu Wata’ala karuniakan itu tak pernah putus sepanjang zaman.

Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita, nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atas segala jasa-jasanya dan perjuangan beliau menyampaikan risalah Islam hingga kepada sampai kepada kita hari ini. Dan semoga kita pun tetap dijadikan umat Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam hingga akhir jaman nanti dan mendapatkan syafaatnya. Dalam kesempatan ini, khatib pun tak lupa berwasiat kepada para hadirin jamaah jumat khususnya kepada diri sendiri, untuk terus meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu Wata’ala

Pada kesempatan Jum’at ini, marilah kita merenungkan salah satu firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam surat Al-‘Ankabut ayat 2 dan 3, yang artinya: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa salah satu konsekuensi pernyataan iman kita, adalah kita harus siap menghadapi ujian yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala kepada kita, untuk membuktikan sejauh mana kebenaran dan kesungguhan kita dalam menyatakan iman. Apakah iman kita itu betul-betul bersumber dari keyakinan dan kemantapan hati, atau sekedar ikut-ikutan serta tidak tahu arah dan tujuan.

Atau pernyataan iman kita didorong oleh kepentingan sesaat? Ingin mendapatkan kemenangan dan tidak mau menghadapi kesulitan seperti yang digambarkan Allah Subhannahu Wata’ala dalam surat Al-Ankabut ayat 10, yang artinya: “Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguh-nya kami adalah besertamu.” Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia”?

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Bila kita sudah menyatakan iman dan kita mengharapkan manisnya buah iman yang kita miliki yaitu Surga sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah Subhannahu Wata’ala dalam surat Al-Kahfi ayat 107, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah Surga Firdaus menjadi tempat tinggal. Maka marilah kita bersiap-siap untuk menghadapi ujian berat yang akan diberikan Allah Subhanahu Wata’ala kepada kita, dan bersabarlah kala ujian itu datang kepada kita. Allah Subhanahu Wata’ala memberikan sindiran kepada kita, yang ingin masuk Surga tanpa melewati ujian yang berat.

Sebagaimana firman-Nya dalan surat Al-baqarah ayat 214, yang artinya: “Apakah kalian mengira akan masuk Surga sedangkan belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa malapetaka dan keseng-saraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama-nya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguh-nya pertolongan Allah itu amat dekat”.

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu Wata’ala

Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam mengisahkan betapa beratnya perjuangan orang-orang dulu dalam perjuangan mereka mempertahankan iman mereka. Mulai dari yang bersifat pribadi maupun kelompok seperti perang Badar, perang Khandak, hingga perang Khunain. Cobalah kita renungkan, apa yang telah kita lakukan untuk membuktikan keimanan kita? cobaan apa yang telah kita alami dalam mempertahankan iman kita? Apa yang telah kita korbankan untuk memperjuangkan aqidah dan iman kita?

Hadirin sidang Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu Wata’ala

Memang, ujian yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala kepada manusia adalah berbeda-beda. Dan ujian yang paling berat adalah ujian yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala kepada umat Islam, yakni dirusaknya Islam di akhir zaman ini. Mengenai dirusaknya Islam di akhir zaman ini, sudah diprediksi oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melalui hadits-haditsnya.

Salah satunya adalah hadist yang tercantum dalam kitab Shohih Bukhori jilid 5 halaman 89. Ada sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Sayyidina Anas bin Malik Radhiallahu Anhu tentang semakin jauh zaman bergeser dari zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, semakin mengerikan zaman tersebut. Hadits tersebut berbunyi; “Isbiruu Fainnahu La Ya’ti Alaikum Zamaanun Illa Alladzi Ba’dahu Syarrun Minhu Hatta Talqaw Rabbakum” yang artinya: “Bersabarlah kalian karena akan datang pada kalian satu zaman dimana setiap zaman berikutnya pasti kondisinya lebih buruk dari zaman sebelumnya dan begitu seterusnya sampai kalian menghadap Allah Subhanahu Wata’ala.”

Lalu, tersebut pula sebuah hadits yang senada maksudnya dengan hadits di atas dalam kitab “Almanqulat Fi Tahqiqil Maqalat” karya Syeikh Ibnu Ahmad Albantani pada halaman 26, yang artinya: “Akan datang pada kalian tahun dan hari dimana tiap tahun dan hari berikutnya pasti kondisinya lebih buruk dari tahun dan hari sebelumnya dan begitu seterusnya sampai kalian menghadap Allah Subhanahu Wata’ala.”

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Dua hadits di atas kembali mengingatkan kita bahwa kondisi Islam dari tahun ke tahun semakin melemah, semakin rancu, semakin semrawut dengan berbagai sumber yang tidak jelas. Ini membuat kita semakin harus ekstra hati-hati dalam hal mencari guru agama dari orang-orang dan buku-buku zaman sekarang. Apalagi belajar sendiri cuma mengandalkan dari buku-buku terjemah. Untuk itu, sebaiknya carilah Islam dari kitab-kitab ulama kita yang hidup di abad-abad awal satu, dua dan tiga. Karena masa mereka lebih dekat dengan masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.

Boleh juga carilah Islam dari orang-orang sekarang dan buku-buku sekarang yang masih merujuk pada kitab-kitab ulama kita di abad-abad awal itu. Mencari kebenaran Islam bukan hanya untuk keselamatan duniawi saja, tapi juga untuk kebahagiaan akhirat yang kekal dan abadi. Bila akidah dan ibadah kita salah atau kotor, apalagi bila agama kita salah, penyesalan di akhirat kelak sudah tidak ada manfaatnya lagi.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Mencari Islam dari kitab-kitab ulama kita yang hidup di abad-abad awal jaminan kebenarannya sudah dilegalisasikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan Imam Bukhori Radhiallahu Anhu yang berbunyi, ”Khairun Qurun Qornii Tsummal Ladzina Yalunahum, Tsummal Ladzina Yaluunahum” yang artinya: “Abad terbaik adalah abad saat aku tinggal (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) lalu abad berikutnya dan abad berikutnya lagi.”

Dalam hadits diatas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebut abad terbaik hanya tiga abad yaitu abad di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hidup. Inilah masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan sahabatnya. Yang kedua adalah abad berikutnya yaitu yang disebut masa tabi’in dan yang ketiga abad berikutnya lagi adalah masa tabiut tabiin. Setelah tiga masa itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak menyebutnya lagi. Hadits tersebut bisa dilihat pada kitab “Almanqulat fii Tahqiqil Maqolat” pada halaman 26, karya Syeikh Ibnu Ahmad Albantani.

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu Wata’ala

Bisa jadi hadits tersebut adalah jawaban dari hadits yang diriwayatkan Imam Malik Radhiallahu Anhu sebagaimana tercantum dalam kitab Shohih Bukhori, dimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mengabarkan bahwa akan datang satu zaman, dimana bila zaman itu tiba maka zaman-zaman berikutnya terus sampai hari kiamat keadaan Islam semakin memburuk dan semrawut. Bisa jadi zaman itu dimulai dari abad ke-4 hijriyah, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak menyebutkan abad ke-4 itu masuk dalam masa-masa terbaik hingga abad ke-5 lebih buruk dari abad ke 4. Abad ke-6 tentunya lebih buruk dari abad ke-5 dan begitu seterusnya samapi akhir zaman.

Dan sekarang kita tengah hidup di abad ke-14, dimana kerusakan agama bisa kita bandingkan dengan abad-abad sebelumnya. Sebetulnya, Islam tidak mungkin akan rusak, karena sudah di jaga oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Namun yang terjadi adalah Islam itu dirusak oleh akal jahat dan nafsu jahat dari umat Islam itu sendiri.

Demikianlah, khutbah singkat ini saya sampaikan untuk perbaikan diri saya dan hadirin jamaah sholat jum’at selaku umat yang mengemban risalah Islam. Dan sebagai umat Islam, selayaknyalah untuk memegang teguh ajaran para aulia, salafussholeh terdahulu agar kita tidak tersesat dan terjebak dalam permainan akal jahat dan nafsu jahat para pendusta agama. Dan tentunya kita wajib untuk menjaga serta memelihara agama Allah Subhanahu Wata’ala, supaya kita pun mendapat pertolongan dari-nya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam surat Muhammad ayat 7, yang artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.

Barokallahuli walakum bima fihi minal ayati wadzikril hakim. Aqulu qauli hadha wastagfiruh innahu huwal ghafururrahim.

____________________________________

*) disampaikan pada Khutbah Jumat di Perguruan Budi Asih, Jakarta, 13 Februari 2009 (17 Shafar 1430H)